Canon 5D Mark II: Panduan Lengkap Kamera Legendaris yang Masih Relevan Tahun 2026

Lazada Flash Sale hemat 99%

Dalam dunia fotografi digital, hanya sedikit kamera yang bisa disebut legendaris dan tetap dicari bahkan puluhan tahun setelah perilisannya. Canon 5D Mark II adalah salah satu dari kamera langka tersebut. Meski diluncurkan tahun 2008, kamera ini masih menjadi pilihan menarik bagi fotografer di tahun 2026 karena kombinasi unik antara kualitas gambar bingkai penuh, kemampuan video revolusioner, dan harga bekas yang sangat terjangkau.

Canon 5D Mark II: Panduan Lengkap Kamera Legendaris yang Masih Relevan Tahun 2026
canon 5d mark ii

Kamera yang sempat mengubah industri film indie dan videografi ini menawarkan sensor 21 megapiksel bingkai penuh, kemampuan rekam video definisi tinggi 1080p pertama di kelasnya, dan kualitas gambar yang masih kompetitif hingga kini. Dengan harga bekas mulai dari Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta, Canon 5D Mark II menjadi pintu masuk paling ekonomis ke dunia fotografi bingkai penuh profesional. Mari kita telusuri secara mendalam mengapa kamera berusia hampir 18 tahun ini masih layak dipertimbangkan.

Mengenal Canon 5D Mark II

Canon 5D Mark II keluaran tahun berapa? Pertanyaan ini sering ditanyakan karena popularitas kamera yang awet. Canon 5D Mark II diumumkan secara resmi pada 17 September 2008 dan mulai dijual ke pasaran pada November 2008 dengan harga peluncuran USD 2.699 atau setara sekitar Rp 25 juta saat itu.

Kamera ini adalah penerus dari Canon 5D original yang diluncurkan tahun 2005. EOS 5D original sudah revolusioner karena menjadi kamera bingkai penuh pertama untuk segmen enthusiast dengan harga terjangkau. Sebelumnya, sensor bingkai penuh hanya ada di kamera profesional super mahal seperti Canon 1Ds Mark III yang harganya lebih dari USD 8.000.

Sejarah dan Pencapaian:

Canon 5D Mark II membuat sejarah dengan menjadi kamera pertama dari Canon yang mampu merekam video. Lebih dari sekadar fitur tambahan, kualitas video 1080p yang dihasilkan begitu baik hingga digunakan untuk produksi film Hollywood, serial televisi, dan iklan komersial. Film seperti segmen dalam “Black Swan”, episode serial TV “House” dan “Saturday Night Live”, serta berbagai iklan Super Bowl direkam menggunakan kamera ini.

Kombinasi sensor bingkai penuh besar dengan kemampuan video memberikan look sinematik yang sebelumnya hanya bisa dicapai dengan kamera film atau kamera video profesional seharga ratusan juta rupiah. Depth of field yang dangkal, kualitas cahaya rendah yang excellent, dan harga yang relatif murah membuat 5D Mark II menjadi game changer di industri film independen.

Pada 2 Maret 2012, Canon mengumumkan penggantinya yaitu Canon 5D Mark III dengan berbagai peningkatan. Pada 24 Desember 2012, Canon Japan resmi menghentikan produksi 5D Mark II dan memindahkannya ke daftar produk lama. Total lifetime produksi adalah sekitar 4 tahun, waktu yang cukup panjang untuk kamera flagship.

Mengapa Masih Dicari Hingga Kini:

Hampir 18 tahun setelah peluncuran, Canon 5D Mark II masih dicari karena beberapa alasan kuat. Pertama adalah harga bekas yang sangat murah dibanding kemampuannya. Dengan Rp 4-5 juta, Anda mendapat kamera bingkai penuh dengan kualitas gambar yang masih sangat baik untuk fotografi profesional.

Kedua adalah warisan historis. Banyak fotografer dan videografer senior punya kenangan indah dengan kamera ini. Ini adalah kamera yang memulai karir mereka atau menghasilkan karya terbaik mereka. Ada emotional attachment yang membuat mereka tetap menyimpan atau mencari unit dalam kondisi bagus.

Ketiga adalah keandalan mekanis. Canon membangun 5D Mark II dengan standar kualitas tinggi. Body magnesium alloy yang kokoh, shutter yang dirate 150.000 actuations, dan komponen berkualitas membuat banyak unit masih berfungsi sempurna hingga kini. Tidak jarang menemukan unit dengan shutter count di bawah 50.000 yang masih seperti baru.

Keempat adalah ekosistem lensa. Canon memiliki koleksi lensa EF terbesar di dunia. Dengan 5D Mark II, Anda bisa menggunakan lensa EF legendaris dari tahun 80-90an hingga lensa modern, semuanya dengan kompatibilitas penuh. Pasar bekas lensa EF juga sangat likuid dengan harga terjangkau.

Canon 5D Mark II Apakah Full-Frame?

Canon 5D Mark II apakah full-frame? Ya, Canon 5D Mark II adalah kamera dengan sensor bingkai penuh (full-frame) berukuran 36 x 24 mm, sama persis dengan ukuran film 35mm tradisional. Ini adalah salah satu poin terbesar yang membuat kamera ini masih relevan di 2026.

Canon 5D Mark II full-frame memberikan semua keuntungan sensor besar. Area sensor yang 2,6 kali lebih besar dibanding APS-C berarti setiap piksel bisa lebih besar dan menangkap lebih banyak cahaya. Ini menghasilkan kualitas gambar superior terutama di ISO tinggi dimana noise lebih terkontrol.

Keuntungan Sensor Bingkai Penuh:

Kualitas Gambar Superior: Sensor 36x24mm dengan 21 megapiksel memberikan ukuran piksel yang besar (6,41 mikron per piksel). Piksel besar ini sangat efisien menangkap cahaya dan menghasilkan dynamic range yang luas. Gambar punya gradasi tonal yang smooth dari bayangan dalam hingga highlight terang.

Performa ISO Tinggi: Rentang ISO native 100-6400 dengan ekspansi hingga ISO 25600 memberikan fleksibilitas luar biasa. Pada ISO 1600, gambar masih sangat bersih dan usable untuk cetak besar. Bahkan di ISO 3200, noise masih dalam batas acceptable. Ini membuka kemungkinan fotografi dalam kondisi cahaya minim tanpa flash.

Depth of Field Lebih Dangkal: Dengan sensor besar, Anda mendapat bokeh (latar blur) yang indah pada bukaan lebar. Lensa 50mm f/1.8 di bingkai penuh memberikan depth of field jauh lebih dangkal dibanding di APS-C. Ini sangat diinginkan untuk potret, wedding, dan fotografi produk premium.

Tidak Ada Crop Factor: Focal length lensa adalah benar-benar sesuai yang tertulis. Lensa 24mm adalah wide 24mm, bukan jadi 38mm seperti di APS-C dengan crop factor 1,6x. Ini penting untuk fotografer landscape, arsitektur, dan interior yang membutuhkan sudut pandang lebar.

Kompatibilitas Penuh dengan Lensa Profesional: Semua lensa Canon EF dirancang untuk bingkai penuh dan memberikan performa optik terbaiknya di sensor penuh. Circle image lensa EF menutupi seluruh area sensor 36x24mm dengan ketajaman merata dari center hingga corner.

Jadi tidak perlu ragu, meski sudah berumur, Canon 5D Mark II tetap merupakan kamera bingkai penuh sejati yang memberikan hasil profesional.

Canon 5D Mark II Spesifikasi Lengkap

Canon 5D Mark II spesifikasi yang lengkap menunjukkan kamera ini dikemas dengan teknologi yang matang:

Berapa Megapixel Canon 5D Mark II

Berapa megapixel Canon 5D Mark II? atau Canon 5D Mark II berapa megapixel? Jawabannya adalah 21,1 megapiksel efektif dari total 22,3 megapiksel sensor (sisanya untuk fokus otomatis dan crop factor). Resolusi maksimal 5.616 x 3.744 piksel memberikan file gambar yang cukup besar untuk cetak poster atau crop signifikan.

Angka 21 megapiksel di tahun 2026 mungkin terdengar rendah dibanding kamera modern yang sudah 30-50 megapiksel. Namun untuk mayoritas pemakaian termasuk fotografi komersial, editorial, wedding, dan bahkan billboard berukuran sedang, 21 megapiksel lebih dari cukup. File yang lebih kecil juga lebih mudah diolah komputer dan tidak memakan storage terlalu banyak.

Kelebihan resolusi “rendah” ini adalah ukuran piksel yang lebih besar (6,41 mikron). Piksel besar menghasilkan dynamic range lebih luas dan performa cahaya rendah lebih baik dibanding sensor modern dengan piksel kecil dan padat. Untuk fotografi dimana kualitas per piksel lebih penting dibanding jumlah piksel total, 5D Mark II masih unggul.

Sensor dan Prosesor

Sensor CMOS Bingkai Penuh 21,1 Megapiksel: Sensor yang dikembangkan khusus dengan teknologi terbaru Canon saat itu. Ukuran 36 x 24 mm dengan arsitektur CMOS tradisional (bukan back-illuminated seperti sensor modern). Meski teknologi lama, sensor ini punya karakteristik warna yang sangat disukai fotografer.

Warna yang dihasilkan sensor 5D Mark II terkenal warm, pleasing, dan sangat bagus untuk skin tone. Tidak perlu banyak editing untuk mendapat warna yang natural dan menarik. Ini adalah salah satu alasan fotografer potret dan wedding masih setia dengan kamera ini.

Prosesor DIGIC 4: Prosesor generasi keempat dari Canon yang mature dan reliable. Meski tidak secepat DIGIC X di kamera modern, DIGIC 4 cukup powerful untuk memproses 21 megapiksel dengan noise reduction yang efektif. Algoritma warna Canon yang terkenal baik juga berjalan di prosesor ini.

Filter Low-Pass: Sensor dilengkapi filter low-pass untuk mencegah moire dan color aliasing yang bisa muncul saat memotret pattern halus seperti kain atau bangunan dengan detail repetitif. Trade-off nya adalah sedikit kehilangan ketajaman dibanding sensor tanpa filter, namun untuk fotografi umum ini bukan masalah.

Self-Cleaning Sensor: Sistem pembersih sensor otomatis menggunakan getaran ultrasonik untuk menggoyang debu yang menempel. Meski tidak 100% efektif, sistem ini mengurangi kebutuhan pembersihan manual yang sering.

Sistem Fokus Otomatis

9 Titik Fokus AF (Semua Cross-Type): Sistem fokus otomatis menggunakan 9 titik dengan semuanya bertipe cross-type yang sensitif terhadap garis vertikal dan horizontal. Titik center adalah tipe double cross yang extra sensitif hingga f/2.8 dan lebih gelap.

Jumlah 9 titik terdengar sangat sedikit dibanding kamera modern yang punya ratusan atau ribuan titik. Namun 9 titik di 5D Mark II diletakkan strategis di area center dengan coverage yang tight. Untuk komposisi center-weighted atau teknik focus-recompose, sistem ini sangat adequate.

AF System Sensitivity: Bisa fokus pada kondisi cahaya hingga -0,5 EV (cukup gelap tapi tidak extreme). Titik fokus center sensitif hingga f/2.8 dan lebih gelap memberikan performa terbaik dengan lensa cepat seperti 50mm f/1.4 atau 85mm f/1.2.

AF Microadjustment: Fitur penting untuk fine-tune fokus otomatis untuk hingga 20 lensa berbeda. Jika lensa punya masalah front-focus atau back-focus, Anda bisa adjust di kamera tanpa perlu service. Ini adalah fitur profesional yang jarang ada di kamera consumer.

Manual Focus dengan Live View: Saat mengaktifkan live view, Anda bisa zoom 5x atau 10x untuk fokus manual yang sangat presisi. Ini sangat berguna untuk fotografi makro, landscape dengan hyperfocal, atau video dimana fokus manual diinginkan.

Sistem fokus 5D Mark II memang tidak secepat atau se-advanced kamera modern dengan tracking AI. Namun untuk fotografi dengan subjek relatif statis atau yang bergerak predictable, sistem ini reliable dan accurate.

Kecepatan Bidikan

Bidikan Beruntun 3,9 fps: Kecepatan burst maksimal 3,9 frame per detik dengan shutter mekanis. Angka ini cukup untuk fotografi potret, wedding, event, dan landscape. Untuk sports atau wildlife dengan aksi super cepat, 3,9 fps memang terbatas namun dengan timing yang baik tetap bisa menangkap momen penting.

Buffer Memory: Buffer bisa menampung sekitar 14-17 frame RAW 14-bit atau 75-78 frame JPEG sebelum melambat. Untuk RAW, ini berarti sekitar 4 detik burst kontinyu di 3,9 fps. Untuk kebanyakan situasi, buffer ini adequate. Menggunakan kartu CF yang cepat (UDMA 7 dengan 160 MB/s write speed) membantu buffer cepat kosong.

Shutter Speed Range: Dari 30 detik hingga 1/8000 detik memberikan fleksibilitas luas. Shutter super cepat 1/8000 detik memungkinkan freeze motion ekstrem atau gunakan bukaan lebar di siang terang tanpa overexposure (meski filter ND tetap lebih baik untuk bukaan f/1.2 atau f/1.4 di matahari terik).

Bulb Mode: Untuk long exposure melebihi 30 detik, mode bulb tersedia. Anda bisa gunakan remote shutter untuk exposure berjam-jam jika perlu, perfect untuk astrofotografi atau light painting.

Self-Timer: Timer 2 detik atau 10 detik untuk menghindari getaran saat tekan shutter. Berguna saat gunakan tripod untuk landscape atau produk.

Shutter Durability: Shutter unit dirate untuk 150.000 actuations. Ini adalah rating pro-grade yang menjamin keandalan untuk pemakaian intensif. Banyak unit 5D Mark II di pasaran bekas dengan shutter count 50.000-100.000 masih punya banyak sisa umur.

Kemampuan Video Revolusioner

Ini adalah departemen dimana Canon 5D Mark II membuat sejarah dan mengubah industri film:

Video Full HD 1080p: Resolusi 1920 x 1080 piksel pada 30, 25, atau 24 frame per detik. Pilihan 24fps memberikan look sinematik khas film. Video direkam menggunakan seluruh area sensor 36x24mm (tidak ada crop), memberikan depth of field yang sangat dangkal – sesuatu yang sebelumnya impossible di kamera video tradisional dengan sensor kecil.

Codec H.264: Video dikompres menggunakan codec H.264 yang efisien. Bitrate sekitar 38-48 Mbps untuk 1080p. File disimpan dalam kontainer MOV atau MP4. Kualitas cukup baik untuk broadcast TV dan bahkan layar lebar cinema dengan proper grading.

Manual Exposure Control: Anda punya kontrol penuh terhadap aperture, shutter speed, dan ISO saat merekam video. Ini memberikan fleksibilitas kreatif yang tidak ada di camcorder consumer. Bisa create look yang specific dengan depth of field dan exposure sesuai keinginan.

Eksternal Microphone: Port input mic 3,5mm stereo memungkinkan gunakan mikrofon eksternal untuk audio berkualitas lebih baik dibanding mic internal yang mono dan rendah kualitas. Ini crucial untuk produksi video profesional dimana audio quality sangat penting.

HDMI Output: Port HDMI bisa output signal ke external monitor atau recorder. Ini memungkinkan monitoring yang lebih baik di lapangan atau record ke external recorder dengan codec lebih tinggi untuk post-production flexibility.

Keterbatasan Video:

Meski revolusioner untuk masanya, video 5D Mark II punya beberapa limitation:

No Autofocus Saat Video: AF saat video sangat lambat, hunting, dan tidak usable. Anda harus fokus manual sepenuhnya. Ini sebenarnya bukan masalah untuk sinematografi profesional yang memang prefer manual focus, namun untuk vlog atau run-and-gun bisa challenging.

No Headphone Monitoring: Tidak ada port headphone untuk monitoring audio real-time. Anda harus percaya pada level meter di layar atau gunakan external monitor/recorder dengan headphone port.

Moire dan Aliasing: Karena video di-downsample dari 21 megapiksel ke 1080p menggunakan line-skipping instead of true downsampling, ada tendency untuk moire (pattern aneh) dan aliasing (jaggies) terutama pada tekstur halus atau pattern repetitif. Ini bisa diatasi dengan lighting dan framing yang hati-hati.

Rolling Shutter: Karena sensor dibaca line-by-line, ada efek rolling shutter (jello effect) saat panning cepat atau gerakan camera yang sudden. Ini karakteristik umum CMOS sensor dan perlu dikelola dengan technique yang smooth.

12 Menit Recording Limit: Canon membatasi recording kontinyu menjadi maksimal 12 menit per clip atau 4GB file size (mana yang tercapai lebih dulu). Ini karena regulasi pajak Eropa yang membedakan camera dan camcorder. Untuk interview atau event long, Anda harus restart recording setiap 12 menit.

Meski ada keterbatasan, kemampuan video 5D Mark II masih impressive dan telah digunakan untuk menghasilkan konten broadcast quality. Dengan teknik yang benar dan post-production yang baik, hasil video sangat cinematic.

Layar dan Jendela Bidik

Layar LCD 3 inci: Layar 920.000 dot dengan viewing angle yang bagus. Resolusi cukup tinggi untuk preview gambar dan navigasi menu. Layar tidak bisa diputar (fixed) yang membatasi shooting angle kreatif terutama untuk video. Brightness bisa diatur untuk kondisi outdoor terang atau indoor gelap.

Live View: Mode live view menggunakan sensor sebagai viewfinder elektronik di layar LCD. Berguna untuk tripod shooting, fokus manual presisi, atau video. Namun sistem AF di live view sangat lambat (contrast detect) sehingga tidak praktis untuk fotografi aksi.

Optical Viewfinder Pentaprisma: Jendela bidik optik pentaprisma memberikan view yang terang dan jelas. Coverage 98% berarti sedikit area di luar yang terlihat akan masuk ke gambar final. Magnifikasi 0,71x cukup besar dan comfortable untuk gunakan berjam-jam. Info kamera seperti shutter, aperture, ISO ditampilkan di bagian bawah viewfinder.

Grid Display: Bisa aktifkan grid di viewfinder untuk membantu komposisi rule of thirds atau meluruskan horizon. Ini membantu mendapat komposisi yang lebih baik langsung dari kamera.

Depth of Field Preview: Tombol DOF preview menutup aperture ke setting yang dipilih sehingga Anda bisa lihat exactly depth of field yang akan dihasilkan. Berguna untuk landscape atau produk dimana kontrol DOF penting.

Rentang ISO dan Performa Cahaya Rendah

ISO Native 100-6400: Rentang ISO native yang luas memberikan fleksibilitas besar. ISO 100 untuk kondisi terang dengan dynamic range maksimal. ISO 6400 untuk kondisi sangat gelap dimana cahaya minimal.

ISO Expansion 50, 12800, 25600: ISO bisa diperluas ke bawah hingga 50 (L) untuk situasi sangat terang atau long exposure siang hari. Ke atas hingga 12800 (H1) dan 25600 (H2) untuk kondisi extremely low light. Namun ISO expansion ini menghasilkan noise lebih tinggi dan dynamic range berkurang.

Performa Per ISO Level:

ISO 100-400: Gambar sangat bersih dengan noise practically invisible. Dynamic range maksimal. Perfect untuk landscape, studio, produk, atau kondisi apapun dengan cahaya cukup.

ISO 800-1600: Noise mulai terlihat tapi sangat minimal dan fine-grained. Still excellent untuk cetak besar. ISO 1600 adalah sweet spot untuk indoor tanpa flash dengan cahaya ambient.

ISO 3200-6400: Noise lebih visible namun still very acceptable dengan processing yang baik. Luminance noise lebih dominan dibanding chroma noise yang membuat gambar still look natural. Usable untuk fotografi event, konser, atau documentary dimana capturing momen lebih penting dibanding technical perfection.

ISO 12800-25600: Noise signifikan dengan kehilangan detail dan warna. Hanya gunakan saat tidak ada pilihan lain dan momen too important to miss. Dengan noise reduction aggressive di post, masih bisa digunakan untuk web atau social media tapi tidak ideal untuk cetak.

Dimensi dan Bobot

Ukuran: 152 x 114 x 75 mm (Panjang x Tinggi x Ketebalan)
Berat: 850 gram (dengan baterai dan kartu memori)

Canon 5D Mark II adalah kamera berukuran mid-size dengan build yang solid dan berat yang substantial. Tidak seringan mirrorless modern tapi juga tidak seberat kamera pro seperti 1D series. Bobot 850 gram memberikan balance yang baik dengan lensa professional seperti 24-70mm f/2.8 atau 70-200mm f/2.8.

Build Quality: Body terbuat dari magnesium alloy yang kuat namun relatif ringan. Konstruksi solid tanpa flex atau creaking saat ditekan. Grip ergonomis dengan texture karet yang comfortable dipegang berjam-jam. Tombol dan dial responsif dengan click yang satisfying.

Weather Resistance: 5D Mark II punya weather sealing dasar di sekitar mount, battery door, dan card door. Tidak sekedap 5D Mark III atau 1D series, namun masih bisa handle cipratan air ringan atau debu moderat. Tidak disarankan gunakan di hujan heavy atau pantai dengan spray air laut tanpa proteksi.

Canon 5D Mark II Harga di Indonesia 2026

Berapa harga kamera Canon EOS 5D? atau lebih spesifik Canon 5D Mark II harga di tahun 2026 sangat terjangkau karena usia kamera yang sudah 18 tahun.

Harga Pasar Bekas

Range Harga: Rp 3.500.000 hingga Rp 6.500.000 untuk body saja tergantung kondisi, shutter count, dan kelengkapan.

Rp 3.500.000 – 4.500.000: Unit dengan kondisi fisik medium (ada wear di body, grip mulai halus, tulisan mulai pudar), shutter count tinggi (100.000-150.000), kelengkapan minim (tanpa box, charger third-party, tanpa strap). Cocok untuk yang budget sangat terbatas dan tidak masalah dengan cosmetic imperfection selama fungsi masih ok.

Rp 4.500.000 – 5.500.000: Unit dengan kondisi good (fisik 85-90%, minor wear normal, fungsi sempurna), shutter count sedang (50.000-100.000), kelengkapan cukup (charger, battery, strap, mungkin tanpa box). Ini adalah range paling umum dan value terbaik.

Rp 5.500.000 – 6.500.000: Unit dengan kondisi excellent atau mint (fisik 95%+, minimum wear, seperti baru), shutter count rendah (di bawah 50.000), kelengkapan full (box, manual, charger original, CD, semua aksesori). Biasanya dari pemilik yang sangat care atau jarang dipakai.

Paket dengan Lensa: Kadang dijual satu paket dengan lensa seperti Canon 24-105mm f/4L IS atau 24-70mm f/2.8L dengan harga Rp 8-15 juta tergantung lensa dan kondisi. Paket bisa value yang baik jika lensa dalam kondisi bagus dan Anda memang butuh focal length tersebut.

Dengan Battery Grip: Unit yang dijual dengan battery grip BG-E6 biasanya tambah Rp 500.000-1.000.000. Battery grip menambah ergonomi untuk shooting portrait dan extend battery life dengan 2 baterai.

Faktor yang Mempengaruhi Harga

Shutter Count: Ini adalah faktor terbesar. Shutter count adalah jumlah foto yang sudah diambil, indikator pemakaian kamera. Kamera dengan shutter count 20.000 akan lebih mahal dibanding 120.000 karena sisa lifetime shutter lebih banyak.

Kondisi Fisik: Kondisi body, grip, layar LCD, dan viewfinder mempengaruhi harga. Unit mint atau like-new fetch premium. Unit dengan dents, scratches, atau grip yang rusak lebih murah.

Kondisi Sensor: Sensor bersih tanpa debu, jamur, atau goresan sangat penting. Sensor kotor bisa dibersihkan namun sensor dengan jamur atau goresan adalah deal breaker yang menurunkan nilai signifikan.

Kelengkapan: Kelengkapan box, charger original, battery original, strap, manual, dan CD software menambah nilai. Unit dengan kelengkapan full bisa lebih mahal Rp 500.000 – 1.000.000.

Garansi: Unit tanpa garansi (sudah expired atau tidak ada nota) adalah norma karena umur kamera. Garansi tidak relevan lagi untuk barang seusia ini. Yang penting adalah kondisi actual dan seller reputation.

Demand dan Supply: Harga fluktuatif tergantung ketersediaan di pasar. Saat banyak orang jual dan supply melimpah, harga turun. Saat demand tinggi atau supply terbatas, harga naik.

Tips Membeli Bekas

1. Cek Shutter Count: Shutter count bisa dicek menggunakan software gratis seperti EOSInfo atau ShutterCount. Minta seller provide screenshot shutter count atau test langsung saat COD. Shutter count di bawah 50.000 adalah low usage. 50.000-100.000 adalah medium. Di atas 100.000 adalah high usage. Rating shutter 5D Mark II adalah 150.000 tapi banyak unit bertahan hingga 200.000-300.000 sebelum perlu replacement.

2. Test Fokus Otomatis: Test AF di berbagai kondisi cahaya dan jarak. Pastikan AF akurat dan tidak hunting atau meleset. Test semua 9 titik fokus untuk memastikan semuanya working. Gunakan lensa berkualitas untuk test agar bukan lensa yang bermasalah.

3. Cek Sensor: Minta seller foto white wall atau langit dengan aperture f/16 atau f/22. Ini akan reveal spot debu di sensor. Debu adalah normal dan bisa dibersihkan. Yang perlu dihindari adalah jamur (spot dengan pattern melingkar atau bercabang) atau goresan (garis permanen). Sensor bermasalah adalah red flag besar karena cleaning atau replacement sangat mahal.

4. Test Video: Jika berencana gunakan untuk video, test recording beberapa menit. Pastikan tidak ada issue dengan codec, audio recording working, dan tidak ada error message. Cek hasil video di komputer untuk memastikan playback normal.

5. Cek Kondisi Fisik: Inspect body untuk dents, cracks, atau damage. Cek grip karet tidak terkelupas atau lengket. Cek LCD tidak ada goresan atau dead pixels. Cek viewfinder tidak ada jamur atau debu excessive. Cek mount tidak ada wobble atau wear berlebihan. Cek hotshoe tidak bengkok atau rusak.

6. Test Semua Tombol dan Dial: Tekan dan putar semua tombol, dial, dan switch. Pastikan responsive dan tidak stuck atau loose. Cek mode dial click dengan pasti ke setiap mode. Cek shutter button smooth dengan half-press dan full-press yang distinct.

7. Cek Battery Health: Jika unit dilengkapi battery original Canon LP-E6, cek kondisinya. Battery lithium-ion degradasi seiring waktu dan charge cycle. Battery lama mungkin hanya hold charge 50-70% dari kapasitas original. Minta seller include info berapa lama battery bertahan per charge. Budget untuk beli battery baru jika battery included sudah tidak optimal.

8. Kelengkapan: Idealnya dapat charger LC-E6 original Canon. Charger third-party murah (Rp 100-150 ribu) available jika tidak include. Strap, body cap, dan manual adalah bonus nice to have tapi tidak critical.

9. Tanya History: Tanya pemilik sebelumnya bagaimana pemakaian kamera. Apakah untuk profesional (heavy usage) atau hobby (light usage). Apakah pernah service atau ada perbaikan. Apakah pernah jatuh atau kena air. Honest seller akan transparan dengan history.

10. COD dan Test: Jangan transfer tanpa lihat barang dulu kecuali dari toko terpercaya dengan reputation solid. Arrange COD di tempat aman dan test semua fungsi sebelum bayar. Bawa laptop untuk check hasil foto dan video. Bawa lensa untuk test jika seller tidak include lensa.

Sumber Bekas Terpercaya:

  • Depot Kamera: Toko kamera bekas terpercaya dengan garansi fungsi dan bisa tukar balik
  • Kameraholic: Spesialis kamera bekas dengan grading jelas dan harga fair
  • OLX dan Tokopedia: Banyak pilihan dari seller individu, harga bisa nego, tapi harus lebih hati-hati dengan penipuan
  • Grup Facebook: Grup jual beli kamera seperti “Jual Beli Kamera Bekas Indonesia” atau “Canon User Indonesia” punya banyak listing

Kelebihan Canon 5D Mark II

Meski sudah berumur 18 tahun, Canon 5D Mark II masih punya banyak kelebihan yang membuatnya relevan:

1. Harga Sangat Terjangkau:

Dengan harga Rp 4-5 juta, ini adalah kamera bingkai penuh termurah yang bisa Anda beli. Untuk perbandingan, kamera bingkai penuh entry-level baru seperti Canon EOS RP masih Rp 14-16 juta bekas, atau Canon R8 Rp 20 juta baru. Penghematan Rp 10-15 juta sangat signifikan dan bisa dialokasikan untuk lensa berkualitas.

2. Sensor Bingkai Penuh dengan Kualitas Excellent:

Sensor 21 megapiksel memberikan kualitas gambar yang masih sangat baik untuk professional use. Dynamic range luas, reproduksi warna accurate dan pleasing, skin tone beautiful. Untuk fotografi potret, wedding, event, landscape, dan commercial, hasil dari 5D Mark II masih competitive.

3. Built Like a Tank:

Konstruksi magnesium alloy dengan build quality professional membuat kamera ini sangat durable. Banyak unit dengan 10+ tahun pemakaian heavy masih berfungsi sempurna. Shutter yang dirate 150.000 actuations often bertahan lebih lama. Ini adalah investment yang awet.

4. Ekosistem Lensa EF yang Luas:

Akses ke ribuan lensa Canon EF dan third-party dalam mount EF. Pasar bekas lensa EF sangat likuid dengan harga terjangkau. Lensa legendary seperti Canon L-series atau Sigma Art bisa didapat dengan harga jauh lebih murah dibanding lensa RF modern.

5. Ergonomi Matang:

Layout tombol dan menu Canon yang mature dan intuitive. Fotografer yang sudah familiar dengan sistem Canon bisa langsung productive. Grip comfortable untuk pemakaian lama. Balance baik dengan lensa professional medium.

6. Video Quality yang Masih Baik:

Meski ketinggalan dibanding kamera modern, video 1080p dari 5D Mark II dengan sensor bingkai penuh masih punya look yang cinematic. Depth of field yang dangkal dan kualitas low-light yang bagus memberikan estetika yang sulit ditiru kamera video consumer. Untuk YouTube, social media, atau even broadcast dengan proper grading, quality masih acceptable.

7. Spare Parts dan Service Mudah:

Karena popularitas 5D Mark II yang massive, spare parts mudah dicari dan service technician familiar dengan kamera ini. Biaya service juga relatif murah karena parts available dan tidak rare.

8. Karakteristik Warna Canon:

Warna khas Canon yang warm, pleasing, dan excellent untuk skin tone. Tidak perlu extensive color correction untuk mendapat look yang bagus. Ini menghemat waktu post-processing signifikan.

9. RAW Flexibility:

File RAW 14-bit memberikan latitude yang bagus untuk editing. Bisa recover highlight dan shadow dengan baik dalam post-processing. Dynamic range cukup untuk kebanyakan situasi demanding.

10. Baterai Besar dan Daya Tahan Bagus:

Baterai LP-E6 dengan kapasitas 1800mAh memberikan daya tahan sekitar 850-1000 foto per charge menurut rating CIPA. Dalam praktek real-world bisa lebih tinggi jika tidak banyak review gambar. Baterai LP-E6 juga digunakan di banyak kamera Canon lain sehingga versatile.

Kekurangan Canon 5D Mark II

Tidak ada kamera perfect, apalagi yang sudah berusia 18 tahun. Berikut kekurangan yang harus dipertimbangkan:

1. Teknologi Fokus Otomatis Ketinggalan:

Sistem AF 9 titik sangat terbatas dibanding kamera modern dengan ratusan atau ribuan titik plus tracking AI. Tidak ada deteksi wajah atau mata. Tidak ada tracking subjek cerdas. Untuk sports atau wildlife dengan subjek bergerak cepat dan unpredictable, AF system adalah bottleneck besar.

Coverage AF juga terbatas di area center sehingga subjek di pinggir frame harus menggunakan focus-recompose yang bisa error jika subjek bergerak atau jika gunakan aperture sangat lebar.

2. Kecepatan Burst Lambat:

Burst rate 3,9 fps adalah slow untuk aksi cepat. Kamera modern bisa 10-20 fps atau bahkan 40 fps. Untuk fotografi sports profesional, fashion dengan model bergerak cepat, atau wildlife yang unpredictable, 3,9 fps membatasi kemampuan capture decisive moment.

Buffer yang terbatas (14-17 RAW) juga cepat penuh jika spray and pray. Harus lebih selektif dan anticipatory dalam timing shutter.

3. Sistem Video Terbatas:

Meski revolusioner untuk masanya, video capability sekarang sudah very dated:

  • No AF saat video (harus manual focus)
  • No headphone monitoring port
  • No 60fps atau slow motion
  • No 4K
  • Moire dan aliasing issue
  • Rolling shutter pronounced
  • 12 menit recording limit

Untuk videografer serious, keterbatasan ini sangat restrictive. Kamera modern atau even smartphone flagship memberikan video capability yang jauh lebih advanced.

4. Layar LCD Fixed:

Layar tidak bisa diputar atau tilt yang membatasi shooting angle kreatif terutama untuk video, low angle, atau high angle. Untuk vlogging atau self-recording, tidak bisa flip screen ke depan.

5. No WiFi atau Konektivitas Modern:

Tidak ada WiFi, Bluetooth, NFC, atau konektivitas wireless apapun. Transfer foto ke smartphone atau tablet harus lewat card reader atau kabel. Remote control harus gunakan wired remote atau infrared. Tidak bisa instant share ke social media atau cloud backup dari lapangan.

6. Resolusi Terbatas untuk Crop Heavy:

21 megapiksel cukup untuk sebagian besar use case tapi jika sering crop heavy atau butuh print sangat besar, resolusi bisa jadi limiting factor. Kamera modern dengan 30-50 megapiksel memberikan flexibility lebih untuk crop.

7. No IBIS:

Tidak ada stabilisasi gambar dalam body. Bergantung sepenuhnya pada stabilisasi optik dalam lensa atau harus gunakan shutter speed cepat atau tripod. Untuk handheld di low light atau telephoto, ini adalah disadvantage.

8. ISO Native Maksimal 6400:

Meski cukup untuk sebagian besar situasi, ISO maksimal 6400 (atau 25600 expanded dengan noise heavy) terbatas dibanding kamera modern yang bisa ISO 51200 atau bahkan 102400 dengan noise yang masih reasonable. Untuk extreme low light seperti astrofotografi atau indoor very dark, ISO range bisa limiting.

9. Teknologi Sensor Dated:

Sensor 2008 tidak punya advantage teknologi modern seperti back-illuminated sensor, dual pixel AF, atau phase detect on-sensor. Dynamic range meski bagus, masih kalah dari sensor modern yang bisa 14-15 stops vs sekitar 11-12 stops di 5D Mark II.

10. Tidak Future-Proof:

Canon sudah discontinue kamera DSLR dan fokus penuh ke mirrorless RF mount. Support untuk EF mount secara perlahan akan berkurang. Lensa EF baru sudah tidak diproduksi lagi. Firmware update tidak akan ada lagi. Ini adalah dead-end platform yang tidak akan berkembang.

11. Berat dan Ukuran Besar:

Dibanding mirrorless modern yang compact, 5D Mark II dengan 850 gram plus lensa berat adalah setup yang bulky. Untuk travel atau street photography dimana discrete dan lightweight diinginkan, ini adalah disadvantage.

Canon 5D Mark II vs 6D – Perbandingan Lengkap

Canon 5D Mark II vs 6D adalah perbandingan yang sering ditanyakan karena kedua kamera dalam range harga similar di pasar bekas.

Perbedaan Spesifikasi

Tabel Perbandingan:

Spesifikasi Canon 5D Mark II Canon 6D
Tahun Rilis November 2008 November 2012
Sensor 21,1 MP Full-Frame 20,2 MP Full-Frame
Prosesor DIGIC 4 DIGIC 5+
ISO Maksimal 6.400 (exp 25.600) 25.600 (exp 102.400)
Titik Fokus 9 titik (semua cross-type) 11 titik (center cross-type)
Fokus Center Sensitivity -0,5 EV hingga f/2.8 -3 EV hingga f/5.6
Burst Rate 3,9 fps 4,5 fps
Shutter Speed Max 1/8000 detik 1/4000 detik
Video 1080p 30fps 1080p 30fps
LCD 3 inci 920k dot 3 inci 1,04 juta dot
WiFi/GPS Tidak ada Built-in
Bobot 850 gram 755 gram
Harga Bekas 2026 Rp 4-5,5 juta Rp 6-8 juta

Kualitas Gambar

Canon 6D memiliki sensor yang lebih baru (4 tahun lebih muda) dengan teknologi yang lebih advanced. Perbedaan paling signifikan adalah performa low light. Canon 6D adalah salah satu kamera terbaik untuk low light di masanya dengan ISO performance yang excellent hingga ISO 12800.

Sensor 6D punya dynamic range sedikit lebih baik (sekitar 12,1 stops vs 11,9 stops di 5D Mark II). Namun dalam praktek, perbedaan ini minimal dan tidak terlihat kecuali dalam situasi extreme high contrast.

Dari sisi warna dan tone, keduanya punya karakteristik Canon yang similar: warm, pleasing, dan bagus untuk skin tone. Resolusi hampir identical (21 MP vs 20 MP) sehingga detail level comparable.

Untuk fotografi di kondisi cahaya bagus, hasil dari keduanya practically identical. Keunggulan 6D baru terasa signifikan di ISO tinggi atau kondisi low light extreme.

Sistem Fokus

Canon 6D punya 11 titik fokus vs 9 titik di 5D Mark II. Namun dari 11 titik 6D, hanya titik center yang cross-type, sisanya line-type yang kurang accurate. Dari 9 titik 5D Mark II, semuanya cross-type.

Keunggulan besar 6D adalah sensitifitas fokus center yang mencapai -3 EV vs -0,5 EV di 5D Mark II. Ini berarti 6D bisa fokus dalam kondisi much darker – practically hampir gelap total dimana mata manusia kesulitan melihat.

Untuk fotografi event dim light, astrofotografi, atau fotografi nocturnal, kemampuan fokus -3 EV adalah game changer. 5D Mark II akan hunting atau gagal fokus di kondisi yang sama dimana 6D masih bisa lock focus dengan pasti.

Kecepatan AF kedua kamera similar, tidak ada yang significantly faster. Untuk fotografi subjek statis atau moving predictable, keduanya adequate. Untuk fast action, keduanya sama-sama terbatas dibanding kamera modern.

Mana yang Lebih Baik?

Pilih Canon 5D Mark II jika:

  • Budget sangat ketat (lebih murah Rp 1,5-2,5 juta)
  • Butuh shutter speed 1/8000 untuk freeze extreme motion atau gunakan aperture super lebar di terang
  • Prefer build quality yang sedikit lebih robust
  • Sudah punya baterai LP-E6 dari kamera Canon lain
  • Tidak peduli dengan WiFi atau GPS

Pilih Canon 6D jika:

  • Sering fotografi low light atau indoor dengan cahaya minim (keunggulan ISO dan AF -3 EV sangat berguna)
  • Butuh WiFi untuk instant transfer atau remote control lewat smartphone
  • Butuh GPS untuk geotagging otomatis (berguna untuk travel atau real estate)
  • Prefer kamera yang lebih ringan (95 gram lighter)
  • Budget bisa stretch sedikit untuk teknologi lebih baru

Untuk mayoritas photographer terutama yang sering low light, Canon 6D adalah pilihan lebih baik karena keunggulan ISO performance dan AF sensitivity sangat practical. Namun jika budget very tight atau tidak peduli low light performance, 5D Mark II masih value excellent.

Canon 5D Mark II vs 60D – Full-Frame vs APS-C

Canon 5D Mark II vs 60D membandingkan kamera berbeda kelas: full-frame professional vs APS-C enthusiast.

Perbedaan Sensor

Perbedaan terbesar adalah ukuran sensor. Canon 5D Mark II menggunakan sensor full-frame 36x24mm dengan luas area 864 mm². Canon 60D menggunakan sensor APS-C 22,3×14,9mm dengan luas area 332 mm². Sensor 5D Mark II adalah 2,6 kali lebih besar.

Sensor besar memberikan beberapa advantage:

Piksel Lebih Besar: Meski 60D punya 18 MP vs 21 MP di 5D Mark II, ukuran per piksel di 5D Mark II jauh lebih besar (6,41 µm vs 4,29 µm). Piksel besar capture lebih banyak cahaya dan menghasilkan less noise di ISO tinggi.

Dynamic Range Lebih Luas: Sensor besar dengan piksel besar bisa capture range dari shadow ke highlight yang lebih lebar. 5D Mark II punya advantage signifikan di dynamic range.

Low Light Performance: Pada ISO sama, 5D Mark II menghasilkan gambar much cleaner dengan noise lebih sedikit. ISO 3200 di 5D Mark II comparable dengan ISO 1600 di 60D dari sisi noise level.

Depth of Field: Sensor besar menghasilkan DOF lebih dangkal pada aperture dan focal length sama. Bokeh lebih pronounced dan background separation lebih baik.

Kualitas Gambar dan Performa

Untuk fotografi di kondisi ideal dengan cahaya bagus, perbedaan kualitas gambar tidak terlalu dramatis jika dilihat di web atau print kecil. Namun untuk print besar, crop heavy, atau kondisi challenging, sensor full-frame menunjukkan superioritas.

Canon 60D punya beberapa advantage sendiri:

Burst Rate Lebih Cepat: 60D bisa burst 5,3 fps vs 3,9 fps di 5D Mark II. Untuk sports atau action, 60D punya advantage kecepatan.

Articulating LCD: Layar 60D bisa diputar dan tilt yang sangat berguna untuk video atau angle shooting kreatif. 5D Mark II punya fixed LCD.

Sistem AF Lebih Modern: 60D punya 9 titik AF dengan center cross-type plus 6 peripheral assist points. AF system lebih responsive meski tidak necessarily lebih accurate.

Reach Telephoto: Crop factor 1,6x di 60D membuat lensa telephoto punya reach lebih panjang. Lensa 300mm jadi equivalent 480mm. Untuk wildlife atau sports dari jauh, ini adalah advantage.

Lebih Ringan dan Compact: 60D dengan 755 gram lebih ringan 100 gram dan ukuran slightly smaller. Untuk travel atau long carry, ini membuat perbedaan.

Untuk Siapa Masing-Masing Kamera?

Canon 5D Mark II Cocok Untuk:

  • Fotografer profesional atau serious enthusiast yang butuh image quality terbaik
  • Potret, wedding, fashion, commercial dimana bokeh dan skin tone critical
  • Landscape dan arsitektur dimana wide angle sesungguhnya tanpa crop factor penting
  • Low light dan event photography dimana ISO performance crucial
  • Filmmaker indie yang butuh cinematic look dengan shallow DOF

Canon 60D Cocok Untuk:

  • Hobbyist atau photographer yang baru belajar serious
  • Sports dan wildlife photography dimana burst rate dan telephoto reach penting
  • Video enthusiast yang butuh articulating screen
  • Budget terbatas tapi butuh performa all-around bagus
  • Situasi dimana weight dan portability adalah priority

Secara umum, jika budget memungkinkan dan use case cocok, 5D Mark II memberikan image quality yang superior terutama untuk genre fotografi yang benefited dari sensor besar. Namun 60D bukan kamera buruk dan punya niche dimana dia excellent.

Perbandingan dengan Canon 5D Mark III

Canon 5D Mark III adalah successor langsung 5D Mark II yang dirilis Maret 2012, sekitar 3,5 tahun setelah Mark II. Ini adalah upgrade signifikan dalam banyak aspek:

Perbaikan Utama di Mark III:

Sistem AF 61 Titik: Massive upgrade dari 9 titik di Mark II. Coverage lebih luas, akurasi lebih tinggi, dan tracking subjek jauh lebih capable. Game changer untuk sports dan wildlife.

Burst 6 fps: Lebih cepat dari 3,9 fps di Mark II. Buffer juga lebih dalam bisa sustained shooting lebih lama.

Sensor 22,3 MP: Resolusi sedikit lebih tinggi dengan teknologi sensor generasi baru. Dynamic range lebih baik, ISO performance improved.

Prosesor Dual DIGIC 5+: Dua prosesor DIGIC 5+ memberikan kecepatan processing much faster untuk burst, video, dan image processing.

Metering 63-Zone: System metering exposure lebih advanced dibanding 35-zone di Mark II. Exposure lebih consistent dan accurate.

Dual Card Slot: CF dan SD slot memberikan redundancy atau separation untuk RAW+JPEG. Critical untuk professional.

HDR Mode: Built-in HDR mode untuk high dynamic range scene. Otomatis combine multiple exposure.

Multiple Exposure: Fitur multiple exposure in-camera untuk creative effect.

Weather Sealing Lebih Baik: Sealing lebih comprehensive untuk durability di kondisi harsh.

Harga: Di pasar bekas 2026, Canon 5D Mark III dijual sekitar Rp 8-12 juta tergantung kondisi.

Apakah Worth the Upgrade dari Mark II ke Mark III?

Jika budget ada, Mark III adalah upgrade worthy terutama jika:

  • Sering shoot sports, action, wildlife, atau fotografi dengan subjek bergerak cepat dimana AF 61 titik sangat membantu
  • Butuh dual card slot untuk redundancy profesional
  • Butuh burst rate lebih tinggi dan buffer lebih dalam
  • Sering crop atau print very large dimana resolusi ekstra berguna

Namun jika fotografi lebih casual atau genre yang tidak demanding (potret statis, landscape, produk), perbedaan image quality antara Mark II dan Mark III tidak terlalu signifikan. Penghematan Rp 4-6 juta bisa dialokasikan untuk lensa berkualitas yang impact nya lebih besar terhadap hasil foto.

Untuk videografer, Mark III tidak memberikan upgrade signifikan di departemen video. Masih 1080p 30fps dengan limitation similar. Jika video adalah priority, lebih baik invest ke kamera mirrorless modern atau kamera video dedicated.

Untuk Siapa Canon 5D Mark II Cocok di 2026

Meski teknologi sudah 18 tahun, Canon 5D Mark II masih relevan untuk beberapa profil pengguna:

1. Pemula yang Ingin Belajar Bingkai Penuh:

Dengan harga Rp 4-5 juta, ini adalah cara paling murah untuk merasakan fotografi bingkai penuh. Pemula bisa belajar tentang advantage sensor besar, karakteristik depth of field, dan workflow profesional tanpa investasi besar. Jika nanti ingin upgrade ke kamera lebih modern, resale value 5D Mark II relatif stabil sehingga loss tidak terlalu besar.

2. Fotografer Potret dan Wedding:

Untuk potret, wedding, dan event indoor, kamera ini masih sangat capable. Skin tone reproduction yang beautiful, bokeh yang indah dari sensor besar, dan kualitas gambar yang still professional membuat hasil yang satisfying. Sistem AF meski terbatas masih adequate untuk subjek yang relatif statis atau predictable movement.

3. Fotografer Landscape dan Arsitektur:

Landscape tidak membutuhkan AF cepat atau burst rate tinggi. Yang penting adalah image quality, dynamic range, dan resolusi. 5D Mark II memenuhi semua requirement ini dengan baik. Resolusi 21 MP cukup untuk print besar. Dynamic range bagus untuk scene dengan contrast tinggi. Sensor bingkai penuh memberikan wide angle sesungguhnya tanpa crop factor.

4. Fotografer Studio dan Produk:

Fotografi studio dengan lighting controlled tidak menuntut ISO tinggi atau AF cepat. Kualitas gambar di ISO rendah sangat excellent. Tethering lewat kabel USB ke komputer bekerja dengan baik menggunakan software Canon EOS Utility. Dengan lighting proper, hasil dari 5D Mark II tidak kalah dari kamera modern.

5. Filmmaker Indie dan Content Creator Budget:

Meski limitation nya banyak, video 1080p dari sensor bingkai penuh masih punya charm cinematic. Untuk filmmaker yang belajar atau project dengan budget terbatas, 5D Mark II adalah tools yang proven. Banyak film festival dan short film masih dibuat dengan kamera ini. Dengan technique yang benar dan post-production yang baik, limitation bisa dikelola.

6. Fotografer Hobi yang Tidak Chase Technology:

Untuk hobbyist yang foto untuk kepuasan personal tanpa tekanan commercial atau kompetisi, 5D Mark II memberikan segala yang dibutuhkan. Image quality lebih dari cukup. Ergonomi comfortable. Tidak ada pressure untuk upgrade setiap 2-3 tahun mengikuti cycle teknologi.

7. Second Body untuk Profesional:

Fotografer yang sudah punya kamera modern sebagai primary bisa gunakan 5D Mark II sebagai backup atau second body. Dengan harga murah, ini adalah insurance yang reasonable. Jika kamera utama bermasalah di tengah assignment, 5D Mark II bisa take over dan still deliver professional result.

8. Collector dan Enthusiast Vintage:

5D Mark II punya tempat special dalam sejarah fotografi digital. Untuk collector yang appreciate historical significance atau enthusiast yang suka mencoba kamera iconic, ini adalah piece yang worth having dalam koleksi.

Mungkin Bukan Untuk Anda Jika:

  • Fotografer sports atau wildlife yang butuh AF tracking advanced dan burst rate tinggi
  • Videografer serious yang butuh 4K, AF video, atau fitur video modern
  • Fotografer yang prioritaskan portability dan lightweight setup
  • Tech enthusiast yang harus punya latest technology
  • Fotografer komersial high-end dimana client expect latest gear
  • Butuh konektivitas wireless untuk workflow modern

Lensa yang Direkomendasikan

Memilih lensa yang tepat untuk 5D Mark II sama pentingnya dengan kamera itu sendiri:

Lensa Sapu Jagat Serbaguna:

Canon EF 24-105mm f/4L IS USM (bekas Rp 4-6 juta): Ini adalah lensa kit yang sering dibundel dengan 5D Mark II saat rilis. Range 24-105mm sangat practical untuk berbagai situasi. Bukaan konstan f/4 cukup versatile. Stabilisasi gambar membantu di kondisi cahaya rendah atau saat zoom tele. Kualitas gambar L-series dengan ketajaman bagus dan build solid. Ini adalah lensa sempurna untuk travel, event, atau daily use.

Canon EF 24-70mm f/2.8L USM atau II (bekas Rp 7-12 juta): Lensa profesional standard zoom dengan bukaan lebar f/2.8 konstan. Performa cahaya rendah excellent. Bokeh beautiful untuk isolasi subjek. Build quality tank-like dengan weather sealing. Versi Mark I lebih murah tapi tanpa stabilisasi. Versi Mark II lebih mahal tapi punya stabilisasi dan optik lebih baik. Ini adalah workhorse lens untuk fotografer profesional.

Lensa Prime Terjangkau:

Canon EF 50mm f/1.8 STM (baru Rp 1,5 juta, bekas Rp 800 ribu-1 juta): Lensa paling murah dan ringan namun menghasilkan image quality luar biasa untuk harganya. Bukaan f/1.8 memberikan bokeh bagus dan low light capability. Sangat sharp di f/2.8-f/5.6. Perfect untuk potret, street, dan everyday photography. Wajib punya untuk setiap pemilik Canon.

Canon EF 85mm f/1.8 USM (bekas Rp 3-4 juta): Focal length classic untuk potret dengan perspective yang flattering. Bukaan f/1.8 menghasilkan bokeh creamy yang indah. Ketajaman excellent wide open. Autofokus USM cepat dan silent. Build quality solid. Ini adalah lensa potret favorit dengan value sangat baik.

Canon EF 35mm f/2 IS USM (bekas Rp 4,5-5,5 juta): Wide angle moderat yang versatile untuk street, documentary, dan environmental portrait. Bukaan f/2 bagus untuk low light. Stabilisasi gambar sangat membantu untuk handheld. Compact dan ringan untuk daily carry. Kualitas gambar sharp dengan distorsi minimal.

Lensa Potret Profesional:

Canon EF 85mm f/1.2L II USM (bekas Rp 12-15 juta): Lensa legendary dengan bokeh yang magical. Bukaan super lebar f/1.2 memberikan depth of field ultra shallow dan subject isolation extreme. Build quality exceptional. Rendering sangat pleasing untuk skin tone. Ini adalah dream lens untuk portrait photographer. Kelemahannya adalah berat, mahal, dan AF agak lambat.

Canon EF 135mm f/2L USM (bekas Rp 8-10 juta): Sering disebut sebagai best portrait lens ever made. Ketajaman luar biasa bahkan wide open. Bokeh smooth dan creamy. Contrast tinggi menghasilkan pop yang beautiful. Build quality L-series solid. AF cepat dengan USM. Value excellent untuk harga.

Lensa Wide Angle:

Canon EF 16-35mm f/4L IS USM (bekas Rp 6-8 juta): Wide zoom dengan stabilisasi gambar. Range 16-35mm perfect untuk landscape, arsitektur, dan interior. Bukaan f/4 konstan cukup untuk sebagian besar situasi. Ketajaman corner to corner excellent. Distorsi minimal untuk wide angle. Compact dan relatif ringan untuk lensa L-series.

Canon EF 17-40mm f/4L USM (bekas Rp 4-5 juta): Wide zoom budget yang masih L-series quality. Tidak ada stabilisasi tapi optik bagus dan build solid. Value sangat baik untuk harga. Good starting point untuk fotografer landscape.

Lensa Telephoto:

Canon EF 70-200mm f/4L IS USM (bekas Rp 7-9 juta): Telephoto zoom dengan stabilisasi dan build quality excellent. Bukaan f/4 membuat ukuran dan berat lebih manageable dibanding versi f/2.8. Ketajaman luar biasa. Perfect untuk potret, event, dan wildlife casual. Value sangat baik dengan image quality mendekati versi f/2.8.

Canon EF 70-200mm f/2.8L IS II USM (bekas Rp 15-18 juta): Lensa telephoto profesional dengan bukaan lebar f/2.8. Stabilisasi generasi kedua sangat efektif. Ketajaman world-class. Bokeh beautiful untuk subject isolation. Build quality exceptional dengan weather sealing. Ini adalah lensa yang digunakan fotografer profesional sports, wedding, dan wildlife di seluruh dunia.

Lensa Makro:

Canon EF 100mm f/2.8 Macro USM (bekas Rp 4-5 juta): Lensa makro classic dengan 1:1 magnification. Ketajaman excellent untuk detail extreme. Bisa double sebagai lensa potret dengan bokeh yang bagus. Build quality solid. Good value untuk harga.

Canon EF 100mm f/2.8L Macro IS USM (bekas Rp 7-9 juta): Versi L-series dengan stabilisasi hybrid yang memperhitungkan shift dan angular movement. Image quality top-tier. Weather sealed. Untuk makro serious atau professional product photography.

Lensa Pihak Ketiga:

Sigma 35mm f/1.4 Art (bekas Rp 6-8 juta): Lensa wide angle dengan bukaan super lebar dan optical quality yang mengalahkan banyak lensa Canon. Ketajaman extreme bahkan wide open. Build quality excellent. Agak berat tapi performa luar biasa.

Sigma 50mm f/1.4 Art (bekas Rp 5-7 juta): Standard prime dengan optical quality flagship. Ketajaman dan contrast luar biasa. Bokeh smooth. Alternative excellent untuk Canon 50mm dengan quality lebih tinggi.

Tamron 24-70mm f/2.8 Di VC USD (bekas Rp 6-8 juta): Alternative lebih murah untuk Canon 24-70mm f/2.8 dengan stabilisasi gambar sebagai bonus. Image quality sangat baik meski tidak exactly sama dengan Canon. Value proposition sangat menarik.

Tips Memaksimalkan Canon 5D Mark II

1. Kuasai Exposure Triangle:

Kamera ini tidak punya banyak automation atau AI dibanding kamera modern. Anda harus really understand tentang aperture, shutter speed, dan ISO untuk mendapat exposure yang benar. Luangkan waktu practice di berbagai kondisi cahaya untuk develop intuisi exposure.

Mode manual adalah friend Anda terutama untuk lighting konsisten seperti studio atau indoor dengan lampu sama. Mode aperture priority bagus untuk depth of field control. Mode shutter priority untuk freeze atau blur motion.

2. Gunakan Spot Metering untuk Exposure Akurat:

Sistem metering 35-zone cukup bagus tapi tidak secanggih modern metering system. Untuk scene dengan high contrast atau backlit subject, gunakan spot metering untuk meter exactly pada subjek penting (seperti wajah). Ini memastikan exposure accurate dimana penting.

3. Expose to the Right (ETTR):

Teknik dimana Anda deliberately slight overexpose untuk maximizing data yang captured di sensor terutama di shadow. Histogram harus mendekati kanan (highlight) tanpa clipping. Di post-processing, pull down exposure untuk mendapat gambar yang properly exposed dengan noise minimal di shadow. Ini technique advanced tapi sangat efektif untuk maximizing dynamic range.

4. Shoot RAW untuk Fleksibilitas Maksimal:

Jangan buang waktu dengan JPEG kecuali untuk situasi dimana speed critical atau storage sangat limited. File RAW 14-bit memberikan latitude editing yang jauh lebih besar. Bisa recover overexposed highlight atau underexposed shadow dengan lebih baik. White balance, contrast, saturation semua bisa adjust di post tanpa degradasi quality.

5. Back Button Focus untuk Kontrol Lebih Baik:

Pisahkan fungsi fokus dari shutter button. Set tombol AF-ON atau tombol asterisk sebagai AF trigger. Shutter button hanya untuk metering dan trigger shutter. Ini memberikan kontrol lebih precise terutama saat gunakan teknik focus-recompose atau saat butuh lock focus untuk multiple shot.

6. Manfaatkan AF Microadjustment:

Jika punya lensa yang consistently front-focus atau back-focus, gunakan fitur AF microadjustment untuk koreksi. Test dengan target khusus atau chart dan adjust value di menu hingga fokus perfect. Ini bisa dramatically improve keeper rate terutama dengan bukaan lebar.

7. Custom Function untuk Workflow Efisien:

Menu custom function punya banyak opsi untuk personalize behavior kamera. Anda bisa set:

  • Tombol SET untuk ISO quick access
  • Exposure compensation increment (1/3 atau 1/2 stop)
  • Bracketing sequence
  • Mirror lockup untuk tripod shooting
  • Shutter curtain sync untuk flash

Customize sesuai style shooting Anda untuk maximize efficiency.

8. Gunakan Live View untuk Fokus Presisi:

Meski AF di live view sangat lambat, gunakan live view dengan manual focus zoom 10x untuk critical focus accuracy. Perfect untuk tripod shooting seperti landscape atau produk dimana Anda punya waktu untuk compose carefully. Fokus manual dengan magnified view jauh lebih accurate dibanding optical viewfinder.

9. Kelola Noise dengan Baik:

Pada ISO tinggi, gunakan Long Exposure Noise Reduction dan High ISO Noise Reduction di menu. Long exposure NR ambil dark frame untuk mengurangi hot pixel pada exposure lebih dari 1 detik. High ISO NR mengurangi noise pada ISO tinggi dengan level yang bisa diset (low, standard, strong, disable).

Perlu diingat bahwa NR in-camera mengurangi detail. Untuk critical work, better shoot RAW dengan NR disable dan handle noise reduction di post-processing menggunakan software advanced seperti DxO atau Topaz Denoise.

10. Maintenance dan Pembersihan Reguler:

Sensor cleaning automatic bekerja setiap kali kamera hidup/mati tapi tidak 100% efektif. Lakukan sensor cleaning manual menggunakan blower atau wet cleaning dengan swab dan solution khusus setiap beberapa bulan atau saat spot debu visible di foto. Bisa self-clean atau bawa ke service center.

Bersihkan exterior body dengan cloth lembut. Jaga weather sealing karet di sekitar mount, battery door, dan card door tetap bersih dan not brittle. Simpan dengan silica gel di dry cabinet atau ruangan AC untuk prevent jamur di iklim tropis Indonesia.

Perawatan dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Karena umur kamera sudah 18 tahun, ada beberapa hal specific yang perlu diperhatikan:

1. Shutter Life:

Jika membeli unit dengan shutter count tinggi (mendekati atau melebihi 150.000), anticipate kemungkinan shutter replacement dalam waktu dekat. Biaya penggantian shutter sekitar Rp 1,5-2,5 juta di service center resmi atau bengkel terpercaya. Tanda shutter mulai bermasalah: error message, shutter curtain tidak buka/tutup sempurna, atau shutter stuck.

2. Battery Degradation:

Battery LP-E6 yang sudah tua akan mengalami capacity loss. Jika battery included dengan kamera sudah 10+ tahun, kemungkinan hanya hold 50-70% capacity original. Invest di battery baru (original Canon Rp 800 ribu-1 juta atau third-party Rp 200-400 ribu) untuk performance optimal.

3. Rubber Grip Deterioration:

Rubber grip di body dan LCD cover bisa deteriorate jadi lengket atau terkelupas seiring waktu terutama di iklim lembab atau terkena heat. Ini normal wear dan bisa diganti dengan replacement grip kit aftermarket (Rp 150-300 ribu) atau professional regriping service.

4. LCD Coating Wear:

LCD protective coating bisa wear off atau develop scratch dari tahun pemakaian. Protect LCD dengan screen protector (Rp 50-100 ribu) atau jika sudah rusak, consider LCD replacement di service center (biaya sekitar Rp 800 ribu-1,5 juta).

5. Viewfinder Fungus atau Dust:

Check viewfinder untuk jamur atau debu excessive. Jamur di optical path bisa spread dan sulit dibersihkan. Debu minor tidak masalah tapi jika heavy, perlu disassembly dan cleaning professional.

6. Card Slot Wear:

Card slot CF yang digunakan ribuan kali bisa develop connection issue. Pin di dalam slot bisa bend atau wear. Jika card tidak terdeteksi atau sering error, kemungkinan slot perlu service. Gunakan card dengan gentle – jangan force saat insert atau eject.

7. Firmware Update:

Pastikan kamera running firmware latest (versi 2.1.2 untuk 5D Mark II). Firmware update fix bug dan improve performance. Download dari website Canon dan install lewat card. Proses mudah dan hanya butuh beberapa menit.

8. Sensor Jamur:

Biggest nightmare untuk kamera tua adalah sensor fungus. Jamur bisa grow di sensor terutama di iklim lembab Indonesia jika kamera tidak digunakan lama atau disimpan di tempat lembab. Jamur di sensor sangat sulit dibersihkan dan bisa permanently damage coating. Prevent dengan:

  • Simpan di dry cabinet dengan humidity 40-50%
  • Gunakan kamera regularly (minimal seminggu sekali)
  • Store dengan body cap terpasang
  • Silica gel di bag untuk absorb moisture

9. Mirror Box Foam:

Foam di mirror box bisa deteriorate dan jadi debu atau residue yang contaminate sensor. Jika notice black dust yang tidak bisa diblower dari sensor, kemungkinan dari foam degradation. Perlu dibersihkan dan foam replaced di service center.

10. Kalibrasi Sensor dan AF:

Setelah bertahun-tahun, sensor metering dan AF system bisa slight drift dari kalibrasi. Jika notice exposure consistently off atau AF consistently miss, consider kalibrasi service di Canon service center. Biaya sekitar Rp 300-500 ribu untuk kalibrasi complete.

Rekomendasi

Canon 5D Mark II adalah kamera yang truly earned status legendary. Hampir dua dekade setelah peluncuran, kamera ini masih mampu menghasilkan image quality yang professional dan telah membuktikan dirinya sebagai investment yang awet. Kombinasi sensor bingkai penuh 21 megapiksel, build quality solid, dan harga bekas yang sangat terjangkau membuat kamera ini tetap relevan di tahun 2026.

Ringkasan Poin Penting:

Harga: Rp 3,5-6,5 juta untuk body bekas tergantung kondisi dan shutter count. Ini adalah kamera bingkai penuh termurah yang masih capable untuk pekerjaan profesional.

Kekuatan Utama: Sensor bingkai penuh dengan image quality excellent, karakteristik warna Canon yang beautiful untuk skin tone, build quality yang solid dan durable, kompatibilitas dengan ecosystem lensa EF yang vast, dan video 1080p dengan cinematic look.

Kelemahan Utama: Sistem AF 9 titik yang ketinggalan, burst rate lambat 3,9 fps, video capability yang limited untuk standard modern, tidak ada konektivitas wireless, dan technology yang sudah dated dibanding kamera modern.

Rekomendasi Berdasarkan Kebutuhan:

Sangat Direkomendasikan Untuk:

  • Pemula yang ingin entry ke fotografi bingkai penuh dengan budget minimal
  • Fotografer potret dan wedding yang prioritaskan image quality over technology terbaru
  • Fotografer landscape dan arsitektur yang tidak butuh AF cepat atau burst tinggi
  • Filmmaker indie dengan budget terbatas yang ingin cinematic look sensor besar
  • Second body untuk profesional sebagai backup atau specialized use

Pertimbangkan Alternatif Jika:

  • Fotografer sports atau wildlife yang heavily rely on AF tracking dan burst rate (consider Canon 7D Mark II atau mirrorless modern)
  • Videografer yang butuh 4K atau fitur video advanced (consider kamera mirrorless atau dedicated video camera)
  • Butuh portability dan lightweight setup (consider mirrorless seperti Canon EOS RP atau Sony A7 series)
  • Must have latest technology dan features (invest lebih untuk kamera modern)

Tips Akhir:

Saat membeli bekas, prioritaskan kondisi sensor dan shutter count over cosmetic condition. Sensor clean dan shutter count low lebih penting dibanding body yang pristine. Budget tambahan Rp 1-2 juta untuk battery baru, memory card cepat, dan possible maintenance cost dalam tahun pertama.

Invest di lensa berkualitas. Kamera mungkin dated tapi good glass adalah forever. Lensa Canon L-series atau Sigma Art akan serve Anda dengan baik dan bisa digunakan di kamera masa depan dengan adapter jika upgrade ke RF mount.

Join komunitas pengguna Canon 5D Mark II di Facebook atau forum fotografi. Banyak tips, tricks, dan shared experience dari sesama pengguna yang sangat valuable. Anda juga bisa belajar teknik untuk maximize potential kamera ini.

Canon 5D Mark II adalah reminder bahwa megapiksel dan spec sheet tidak always equal to great photography. Di tangan fotografer skilled, kamera 18 tahun ini masih bisa menghasilkan image yang stunning dan competitive. Ini adalah testament to timeless design dan engineering excellence Canon. Jika budget terbatas namun ingin merasakan magic fotografi bingkai penuh, Canon 5D Mark II adalah pilihan yang wise dan proven.

Pertanyaan Umum Canon 5D Mark II

Berapa megapixel Canon 5D Mark II?
Canon 5D Mark II memiliki sensor 21,1 megapiksel efektif dari total 22,3 megapiksel. Resolusi maksimal foto adalah 5.616 x 3.744 piksel. Angka 21 megapiksel sangat cukup untuk cetak poster besar, publikasi editorial, dan bahkan billboard berukuran sedang. File RAW berukuran sekitar 25-30 MB per foto.

Berapa harga kamera Canon EOS 5D Mark II?
Harga Canon 5D Mark II bekas di tahun 2026 berkisar Rp 3.500.000 hingga Rp 6.500.000 untuk body saja tergantung kondisi fisik, shutter count, dan kelengkapan. Unit dengan kondisi bagus dan shutter count sedang (50.000-100.000) biasanya dijual Rp 4.500.000 hingga Rp 5.500.000. Paket dengan lensa bisa Rp 8-15 juta tergantung jenis lensa.

Canon 5D Mark II keluaran tahun berapa?
Canon 5D Mark II diumumkan pada 17 September 2008 dan mulai dijual ke pasaran November 2008. Produksi dihentikan pada 24 Desember 2012, memberikan total masa produksi sekitar 4 tahun. Jadi di tahun 2026, kamera ini sudah berusia hampir 18 tahun namun masih banyak dicari karena kualitas dan keandalan yang terbukti.

Canon 5D Mark II apakah full-frame?
Ya, Canon 5D Mark II adalah kamera dengan sensor bingkai penuh (full-frame) berukuran 36 x 24 mm yang sama dengan film 35mm tradisional. Sensor besar ini memberikan kualitas gambar superior, performa ISO tinggi lebih baik, depth of field lebih dangkal, dan kompatibilitas penuh dengan seluruh jajaran lensa Canon EF tanpa crop factor.

Apa perbedaan Canon 5D Mark II vs 6D?
Perbedaan utama: Canon 6D memiliki performa ISO tinggi jauh lebih baik dengan maksimal native ISO 25.600, sensitivitas fokus pusat mencapai -3 EV (vs -0,5 EV di Mark II) untuk fokus di kondisi sangat gelap, WiFi dan GPS built-in, lebih ringan 95 gram, dan technology 4 tahun lebih baru. Canon 5D Mark II memiliki shutter speed maksimal lebih cepat 1/8000 detik, harga lebih murah Rp 1,5-2,5 juta, dan semua 9 titik fokus bertipe cross-type.

Apakah Canon 5D Mark II masih bagus di 2026?
Ya, Canon 5D Mark II masih bagus untuk banyak genre fotografi terutama potret, wedding, landscape, dan studio dimana kualitas gambar lebih penting dibanding teknologi terbaru. Sensor bingkai penuh menghasilkan image quality yang masih kompetitif. Keterbatasan ada di sistem AF yang dated, burst rate lambat, dan video capability yang limited. Namun dengan harga Rp 4-5 juta, ini adalah value proposition sangat menarik.

Berapa shutter life Canon 5D Mark II?
Shutter Canon 5D Mark II dirating untuk 150.000 actuations oleh Canon. Namun dalam praktek, banyak unit bertahan hingga 200.000-300.000 atau bahkan lebih sebelum perlu penggantian. Shutter count di bawah 50.000 dianggap low usage. 50.000-100.000 adalah medium usage. Di atas 100.000 adalah high usage namun masih punya sisa umur signifikan.

Apakah Canon 5D Mark II bisa video 4K?
Tidak, Canon 5D Mark II hanya bisa merekam video maksimal 1080p Full HD pada 30, 25, atau 24 fps. Tidak ada kemampuan 4K. Namun video 1080p dari sensor bingkai penuh memberikan look cinematic dengan depth of field dangkal yang sangat diinginkan filmmaker. Banyak film dan serial TV pernah direkam menggunakan kamera ini.

Lensa apa yang cocok untuk Canon 5D Mark II?
Lensa yang direkomendasikan: Canon EF 24-105mm f/4L IS (sapu jagat serbaguna), Canon EF 50mm f/1.8 STM (prime murah berkualitas), Canon EF 85mm f/1.8 USM (potret terjangkau), Canon EF 24-70mm f/2.8L (profesional standard zoom), Canon EF 70-200mm f/4L IS (telephoto dengan value baik), atau Sigma 35mm f/1.4 Art (wide angle premium). Semua lensa Canon EF kompatibel penuh.

Bagaimana cara cek shutter count Canon 5D Mark II?
Shutter count bisa dicek menggunakan software gratis seperti EOSInfo, ShutterCount, atau Canon EOS Utility. Upload foto RAW terbaru dari kamera ke website seperti camerashuttercount.com juga bisa reveal shutter count dari metadata EXIF. Atau hubungkan kamera ke komputer dan gunakan software EOSInfo untuk baca data langsung dari kamera.

Apakah Canon 5D Mark II punya weather sealing?
Ya, Canon 5D Mark II memiliki weather sealing dasar di sekitar lens mount, battery door, dan card slot. Namun sealing tidak sekomprehensif kamera pro seperti 1D series atau 5D Mark III. Kamera bisa handle cipratan air ringan atau debu moderat tapi tidak disarankan untuk pemakaian di hujan deras atau kondisi ekstrem tanpa proteksi tambahan.

Berapa ISO maksimal Canon 5D Mark II?
ISO native Canon 5D Mark II adalah 100-6400. Bisa diperluas (expanded) hingga ISO 50 (L) ke bawah dan ISO 12800 (H1) serta 25600 (H2) ke atas. Performa terbaik adalah ISO 100-1600. ISO 3200-6400 masih very usable. ISO 12800-25600 memiliki noise signifikan dan hanya untuk situasi desperate dimana menangkap momen lebih penting dari kualitas teknis.

Apakah Canon 5D Mark II bisa autofokus saat video?
Secara teknis bisa, tapi AF saat video di Canon 5D Mark II sangat lambat, hunting, dan tidak praktis untuk digunakan. Mayoritas videografer menggunakan manual focus saat merekam video. Ini sebenarnya standard untuk sinematografi profesional dimana kontrol manual focus diinginkan untuk creative control penuh.

Berapa berat Canon 5D Mark II?
Canon 5D Mark II memiliki berat 850 gram termasuk baterai LP-E6 dan kartu memori. Body only tanpa baterai sekitar 810 gram. Ini adalah bobot mid-size yang memberikan balance baik dengan lensa profesional. Tidak terlalu ringan seperti mirrorless tapi juga tidak seberat kamera pro flagship seperti 1D series yang bisa 1,5 kg.

Apakah Canon 5D Mark II bisa tethering?
Ya, Canon 5D Mark II support tethered shooting menggunakan kabel USB ke komputer. Software Canon EOS Utility (gratis dari Canon) memungkinkan kontrol kamera dari komputer, live view di layar besar, dan foto langsung masuk ke komputer saat diambil. Sangat berguna untuk fotografi studio atau produk dimana client ingin lihat hasil real-time.

Dimana membeli Canon 5D Mark II bekas yang terpercaya?
Tempat terpercaya membeli Canon 5D Mark II bekas: Depot Kamera (toko bekas dengan garansi dan grading jelas), Kameraholic (spesialis bekas terpercaya), Tokopedia atau OLX dari seller dengan reputasi baik dan review positif banyak, atau grup Facebook jual beli kamera seperti “Jual Beli Kamera Bekas Indonesia”. Selalu prioritaskan COD untuk test fisik sebelum bayar.

Apakah baterai Canon 5D Mark II masih tersedia?
Ya, baterai LP-E6 masih sangat mudah ditemukan karena digunakan di banyak kamera Canon (5D Mark II/III/IV, 6D, 7D, 60D, 70D, 80D, dll). Baterai original Canon tersedia di toko kamera dengan harga Rp 800 ribu-1 juta. Alternatif third-party seperti Wasabi Power atau Ravpower tersedia Rp 200-400 ribu dengan performa bagus untuk harga.

Berapa lama warranty Canon 5D Mark II?
Canon 5D Mark II yang dijual baru tahun 2008-2012 datang dengan garansi resmi 1 tahun. Namun di tahun 2026, semua garansi sudah expired karena usia kamera. Unit bekas yang dijual sekarang umumnya tanpa garansi manufaktur. Beberapa toko bekas memberikan garansi toko sendiri 1-3 bulan untuk fungsi, tapi ini bukan garansi resmi Canon.

Apakah Canon 5D Mark II support GPS?
Tidak, Canon 5D Mark II tidak memiliki GPS built-in. Untuk geotagging foto, Anda perlu menggunakan GPS external yang terhubung lewat hot shoe atau sync foto dengan tracking log dari smartphone atau GPS device external menggunakan software seperti Lightroom.

Format kartu memori apa yang digunakan Canon 5D Mark II?
Canon 5D Mark II menggunakan kartu CompactFlash (CF) Type I atau II dengan support UDMA up to UDMA 7 untuk kecepatan write maksimal. Disarankan menggunakan kartu CF dengan speed minimal 60 MB/s untuk video 1080p atau 90 MB/s untuk sustained burst RAW. Brand seperti SanDisk Extreme Pro atau Lexar Professional adalah pilihan reliable.