Review Canon EOS M10: Kamera Mirrorless Kompak untuk Pemula dan Vlogger
Dunia fotografi digital terus berkembang dengan hadirnya kamera tanpa cermin yang menawarkan kualitas gambar tinggi dalam paket ringkas. Canon EOS M10 hadir sebagai solusi untuk pemula yang ingin memasuki dunia fotografi serius tanpa harus membawa peralatan berat. Kamera ini menggabungkan sensor APS-C berukuran besar dengan desain compact yang stylish, menjadikannya pilihan menarik untuk generasi muda yang aktif di media sosial.

Dengan bobot hanya 301 gram termasuk baterai dan kartu memori, Canon EOS M10 adalah salah satu kamera mirrorless paling ringan di kelasnya. Dilengkapi layar sentuh yang bisa diputar 180 derajat untuk selfie, konektivitas WiFi dan NFC untuk berbagi instant, serta berbagai mode kreatif yang mudah dipahami, kamera ini dirancang untuk membuat fotografi berkualitas tinggi accessible untuk semua orang. Mari kita telusuri lebih dalam mengapa Canon EOS M10 masih relevan di tahun 2026.
Mengenal Canon EOS M10
Canon EOS M10 keluar tahun berapa? Pertanyaan ini sering ditanyakan mengingat kepopuleran kamera ini di pasaran bekas. Canon EOS M10 diumumkan secara resmi pada 13 Oktober 2015 dan mulai tersedia di pasaran pada November 2015. Jadi kamera ini sudah berusia lebih dari 10 tahun di tahun 2026, namun masih banyak dicari karena harganya yang terjangkau dan kualitas yang masih baik untuk pemula.
Sejarah dan Latar Belakang:
Canon EOS M10 adalah penerus dari Canon EOS M2 yang tidak pernah resmi dijual di pasar Amerika Serikat. Kamera ini diluncurkan sebagai model entry-level dalam jajaran mirrorless Canon EOS M, berada di bawah EOS M3 yang lebih advanced. Tujuan Canon dengan M10 adalah membuat kamera mirrorless yang tidak hanya powerful tapi juga stylish dan user-friendly untuk first-time buyers.
Peluncuran M10 menandai perubahan strategi Canon dalam pasar mirrorless. Mereka menyadari bahwa untuk bersaing dengan Sony, Fujifilm, dan Panasonic di segmen ini, mereka perlu menawarkan produk yang tidak hanya fokus pada spesifikasi teknis tapi juga pada desain, kemudahan penggunaan, dan harga yang kompetitif.
Posisi dalam Jajaran Canon:
Dalam ekosistem Canon, EOS M10 berada di segmen entry-level dari lini mirrorless EOS M. Di atasnya ada EOS M3 dengan jendela bidik elektronik dan kontrol lebih manual, serta EOS M5 sebagai flagship dengan performa lebih tinggi. Di bawahnya, Canon kemudian meluncurkan EOS M100 pada 2017 sebagai penggantinya.
Berbeda dengan kamera DSLR Canon seperti seri EOS Rebel yang ditujukan untuk enthusiast yang ingin kontrol penuh, EOS M10 dirancang untuk user yang mengutamakan kesederhanaan, portabilitas, dan kemudahan berbagi ke media sosial. Ini adalah kamera “lifestyle” yang kebetulan punya sensor dan kualitas gambar setara DSLR entry-level.
Target Pengguna:
Canon merancang EOS M10 dengan beberapa target pasar spesifik:
Generasi Muda dan Millennials: Dengan pilihan warna putih, abu-abu, dan hitam plus aksesoris customizable seperti face jacket dan grip berwarna-warni, M10 appeals to younger demographic yang peduli dengan aesthetic.
Upgrade dari Smartphone: Untuk mereka yang sudah maxing out kemampuan kamera smartphone dan ingin step up ke quality lebih tinggi tanpa complexity DSLR tradisional.
Vlogger Pemula: Layar flip 180 derajat dan konektivitas WiFi membuat M10 popular di komunitas YouTube dan vlogger, terutama sebelum era kamera dedicated untuk vlogging menjadi mainstream.
Travel Photography: Bobot ringan dan ukuran compact membuat M10 ideal untuk travel tanpa beban berat backpacking photography gear.
Parents dan Family Photographers: Kemudahan penggunaan dengan mode otomatis yang intelligent membuat parents bisa capture momen keluarga tanpa harus belajar fotografi secara mendalam.
Canon berhasil menemukan niche market dengan M10 – orang-orang yang menginginkan kualitas gambar excellent tapi tidak ingin kesulitan dengan teknikal complexity kamera profesional.
Canon EOS M10 Termasuk Kamera Apa?
Canon M10 termasuk kamera apa? Canon EOS M10 adalah kamera mirrorless dengan lensa yang dapat diganti (mirrorless interchangeable-lens camera atau MILC). Istilah “mirrorless” berarti kamera ini tidak menggunakan cermin dan prisma seperti kamera DSLR tradisional, sehingga bisa dibuat lebih compact dan ringan.
Penjelasan Sistem Mirrorless:
Berbeda dengan DSLR yang menggunakan cermin mekanis untuk memantulkan cahaya ke optical viewfinder, kamera mirrorless menggunakan sensor langsung untuk menampilkan gambar ke layar LCD atau electronic viewfinder. Keuntungannya adalah ukuran body lebih kecil, bobot lebih ringan, dan operasi lebih silent karena tidak ada cermin yang bergerak naik turun.
Canon EOS M10 tergolong dalam kategori:
Kamera Sistem Kompak: Istilah yang digunakan Canon untuk merujuk pada kamera mirrorless mereka. Sistem mengacu pada ketersediaan berbagai lensa yang dapat ditukar.
Kamera APS-C: Ukuran sensor M10 adalah APS-C (22,3 x 14,9 mm), sama dengan DSLR entry hingga mid-range Canon. Sensor ini jauh lebih besar dibanding sensor smartphone atau kamera compact tradisional, menghasilkan kualitas gambar superior terutama dalam kondisi cahaya rendah dan depth of field control.
Kamera Entry-Level Enthusiast: Meski punya fitur otomatis extensive, M10 tetap memberikan kontrol manual penuh untuk mereka yang ingin belajar fotografi lebih serius.
Perbedaan dengan DSLR:
Meski sensor dan kemampuan gambar comparable dengan DSLR entry-level seperti EOS 1300D atau 700D, ada beberapa perbedaan fundamental:
Ukuran dan Bobot: M10 jauh lebih kecil dan ringan. Body only 265 gram vs DSLR yang 400-500 gram tanpa lensa.
Tidak Ada Optical Viewfinder: M10 mengandalkan layar LCD untuk framing. Tidak ada jendela bidik optik seperti DSLR.
Sistem Fokus: Menggunakan on-sensor phase detection dan contrast detection (Hybrid CMOS AF II) yang bekerja langsung pada sensor, bukan modul fokus terpisah seperti DSLR.
Lensa: Menggunakan mount EF-M yang berbeda dari EF/EF-S mount DSLR Canon. Butuh adapter untuk menggunakan lensa DSLR Canon.
Silent Shooting: Bisa menggunakan electronic shutter yang completely silent, bagus untuk situasi dimana noise shutter mengganggu.
Kategori Penggunaan:
Canon EOS M10 cocok untuk:
-
Fotografi street casual
-
Potret dan selfie
-
Travel dan landscape
-
Vlogging dan content creation
-
Daily photography dan dokumentasi keluarga
-
Pembelajaran fotografi untuk pemula
Tidak optimal untuk:
-
Fotografi sports dengan subjek bergerak sangat cepat
-
Wildlife photography yang butuh telephoto besar
-
Fotografi profesional berbayar dengan client expectation tinggi
-
Kondisi extreme outdoor yang butuh weather sealing
Canon EOS M10 Spesifikasi Lengkap
Canon EOS M10 spesifikasi yang lengkap menunjukkan kamera ini packed dengan fitur yang impresive untuk ukurannya:
Sensor dan Prosesor
Sensor CMOS APS-C 18 Megapixel:
Canon EOS M10 menggunakan sensor CMOS berukuran APS-C dengan dimensi 22,3 x 14,9 mm. Total pixel sensor adalah 19 megapixel dengan effective pixel 18 megapixel. Resolusi maksimal foto adalah 5184 x 3456 pixel, cukup untuk cetak poster ukuran besar atau crop signifikan tanpa loss quality.
Sensor APS-C memberikan keuntungan signifikan dibanding sensor kecil di smartphone atau kamera compact:
-
Area sensor 13-15x lebih besar dibanding smartphone flagship, menghasilkan gathering cahaya lebih baik
-
Depth of field control lebih baik untuk bokeh dan isolasi subjek
-
Dynamic range lebih luas untuk detail di highlight dan shadow
-
Performa noise lebih baik di ISO tinggi
Prosesor DIGIC 6:
Engine pemrosesan gambar Canon generasi keenam memberikan:
-
Processing speed tinggi untuk continuous shooting hingga 4,6 fps
-
Noise reduction algorithm advanced untuk gambar clean di ISO tinggi
-
Color reproduction accurate dengan characteristic Canon yang warm dan pleasing
-
Video processing untuk Full HD 1080p
-
Power efficiency untuk battery life optimal
Kombinasi sensor 18MP dengan DIGIC 6 menghasilkan file size manageable (sekitar 5-7 MB per JPEG Fine, 20-25 MB per RAW) yang tidak terlalu membebani storage atau editing computer.
Format File:
-
JPEG: Fine dan Normal quality untuk hasil siap pakai
-
RAW: 14-bit Canon CR2 format untuk maximum editing latitude
-
RAW+JPEG: Simultaneous recording kedua format
Sistem Fokus Otomatis
Hybrid CMOS AF II:
Canon EOS M10 menggunakan sistem fokus Hybrid CMOS AF generasi kedua yang mengkombinasikan:
Phase Detection AF: 49 titik phase detection tersebar di area sensor untuk fokus cepat dan tracking subjek bergerak. Coverage area cukup luas di center frame.
Contrast Detection AF: Untuk fine-tuning dan akurasi tinggi terutama di area tepi frame atau kondisi low light.
Face Detection + Tracking: Teknologi yang mendeteksi wajah dalam frame dan mengikuti movement mereka. Priority diberikan pada wajah terdekat atau yang dipilih via touch screen.
Touch to Focus: Cukup tap layar pada area yang ingin difokuskan dan kamera akan fokus serta memotret jika opsi Touch Shutter diaktifkan.
Fokus Brightness Range: EV 1-18, artinya bisa fokus dalam kondisi cukup gelap (tapi bukan totally dark). Ada AF-assist LED yang menyala di kondisi very low light untuk membantu focusing.
Kecepatan Fokus: Dalam kondisi ideal dengan cahaya baik dan subjek kontras tinggi, AF lock membutuhkan sekitar 0,2 detik. Di kondisi low light bisa melambat hingga 1-1,2 detik. Ini tidak secepat flagship camera tapi acceptable untuk mayoritas situasi.
AF Modes:
-
One-Shot AF: Fokus lock saat shutter half-press untuk subjek statis
-
Servo AF: Continuous fokus tracking untuk subjek bergerak
Performa AF Canon EOS M10 adequate untuk everyday photography, portraits, dan landscapes. Untuk sports atau wildlife yang sangat cepat, ada limitation tapi untuk family events, travel, dan vlogging, sistem ini bekerja dengan baik.
Kecepatan Bidikan
Continuous Shooting: Canon EOS M10 mampu memotret continuous hingga 4,6 frame per detik (fps). Ini adalah speed reasonable untuk entry-level mirrorless, meski tidak spektakuler dibanding kompetitor yang bisa 10+ fps.
Buffer: Buffer memory bisa menampung sekitar 10 frame RAW atau 1000+ frame JPEG sebelum slowdown. Untuk JPEG praktis unlimited jika menggunakan kartu memory cukup cepat.
Shutter Speed Range:
-
Manual: 30 detik hingga 1/4000 detik
-
Bulb mode: untuk long exposure lebih dari 30 detik
-
Flash sync: 1/200 detik
Shutter speed maksimal 1/4000 detik cukup untuk freeze motion dan gunakan aperture lebar di siang terang, meski kamera high-end umumnya 1/8000 detik.
Startup Time: Kamera membutuhkan sekitar 2 detik dari off hingga siap memotret. Ini agak lambat dibanding kompetitor tapi tidak deal-breaker untuk casual shooting.
Shutter Type: Electronically-controlled focal-plane shutter mekanis. Ada opsi menggunakan electronic first-curtain shutter untuk mengurangi vibration dan shutter sound.
Self-Timer: 2 detik atau 10 detik untuk group photo atau menghindari camera shake.
Kemampuan Video
Canon EOS M10 mendukung perekaman video dengan spesifikasi:
Resolusi dan Frame Rate:
-
Full HD 1080p: 1920 x 1080 pada 30p, 25p, atau 24p (pilih sesuai region atau aesthetic preference)
-
HD 720p: 1280 x 720 pada 60p atau 50p untuk slow motion playback
-
SD 480p: 640 x 480 pada 30p atau 25p
Codec: MP4 container dengan H.264/MPEG-4 AVC compression untuk video dan AAC-LC untuk audio. File size efficient untuk storage dan sharing.
Bitrate: Variable bitrate averaging sekitar 30-35 Mbps untuk 1080p. Kualitas cukup baik untuk YouTube, Instagram, atau casual vlogging.
Manual Control: Bisa adjust aperture, shutter speed, dan ISO manual saat merekam untuk creative control. Namun perubahan aperture akan terdengar karena tidak ada smooth iris transition.
Autofocus saat Video: Continuous AF bekerja saat video dengan face tracking. Namun AF agak hunting dan tidak sehalus kamera dedicated video. Untuk best results, gunakan manual focus atau pre-focus sebelum merekam.
Microphone: Built-in mono microphone. Tidak ada port eksternal microphone 3,5mm yang adalah kekurangan significant untuk serious vloggers.
HDMI Output: Mini HDMI untuk output ke monitor eksternal atau recorder. Tidak ada clean HDMI output tanpa overlay.
Recording Limit: Maksimal 29 menit 59 detik per clip karena regulasi pajak EU yang membedakan camera dan camcorder.
Hybrid Auto Mode: Mode unik Canon yang merekam 2-4 detik video clip sebelum setiap foto still, lalu menggabungkannya menjadi video diary otomatis. Menarik untuk travel vlog.
Layar dan Tampilan
Layar LCD 3 inci Touchscreen:
Canon EOS M10 dilengkapi layar TFT LCD berukuran 3 inci dengan resolusi approximately 1,04 juta dot. Ini adalah layar touch-capacitive yang responsive dan mudah digunakan.
Tilt Mechanism: Layar bisa diputar ke atas hingga 180 derajat untuk selfie dan vlog. Ini adalah feature signature M10 yang membedakannya dari kompetitor. Tidak bisa tilt ke bawah untuk low angle shooting, hanya ke atas.
Touch Functionality:
-
Touch to fokus dan shoot
-
Swipe untuk navigasi menu dan review gambar
-
Pinch to zoom saat review foto
-
Touch drag untuk menggeser AF point
Brightness: 5 level manual brightness adjustment untuk visibility di berbagai kondisi lighting. Di outdoor terang, visibility masih okay meski tidak sebrilliant layar flagship.
Information Display: Layar menampilkan semua informasi shooting seperti shutter speed, aperture, ISO, mode, battery, dan shots remaining. Ada histogram untuk exposure checking.
No Electronic Viewfinder: M10 tidak punya EVF built-in atau opsi untuk attach eksternal EVF. Ini adalah cost-cutting measure untuk menjaga harga competitive. Semua framing via LCD screen.
Ketiadaan viewfinder bisa jadi limitation di outdoor bright dimana LCD sulit dilihat, atau untuk steady handheld shooting dimana bracing camera ke eye stabilize shot.
Dimensi dan Berat
Dimensi Fisik:
-
Lebar: 108,0 mm
-
Tinggi: 66,6 mm
-
Kedalaman: 35,0 mm (bagian terdalam)
Ukuran yang sangat compact, mudah masuk jacket pocket atau small bag. Footprint lebih kecil dibanding smartphone flagship modern yang makin besar.
Berat:
-
301 gram: Dengan baterai dan kartu memory
-
265 gram: Body only tanpa baterai dan kartu
Bobot super ringan membuat M10 comfortable untuk dibawa seharian. Dengan lensa kit EF-M 15-45mm IS STM (130 gram), total setup hanya 431 gram – masih lebih ringan dari smartphone + gimbal.
Material: Body terbuat dari plastic reinforced yang lightweight namun sturdy. Bukan metal seperti kamera premium tapi build quality solid untuk price point.
Grip: Tidak ada grip pronounced seperti DSLR. Front panel cukup flat dengan small bump untuk jari. Ini trade-off dari desain compact dan stylish. Opsional bisa pasang grip tambahan untuk handling lebih baik.
Mount: Canon EF-M bayonet mount dengan metal construction untuk durability. Compatible dengan lensa EF-M native dan lensa EF/EF-S via adapter.
Desain M10 prioritaskan portability dan style over ergonomic maksimal. Untuk shooting extended atau lensa besar, kurangnya grip bisa jadi issue. Tapi untuk daily carry dan casual shooting, compact form factor adalah advantage besar.
Canon EOS M10 Apakah Sudah WiFi?
Canon EOS M10 apakah sudah wifi? Ya, Canon EOS M10 dilengkapi dengan WiFi built-in dengan NFC (Near Field Communication) untuk konektivitas wireless yang mudah dan cepat.
Fitur WiFi:
Transfer Gambar: Kirim foto dan video dari kamera ke smartphone, tablet, atau computer secara wireless. Tidak perlu kabel atau card reader. Transfer bisa dilakukan selective (pilih foto tertentu) atau batch (banyak foto sekaligus).
Remote Shooting: Control kamera dari smartphone via app Canon Camera Connect. Bisa adjust settings seperti shutter speed, aperture, ISO, focus point, dan trigger shutter dari jarak jauh. Berguna untuk self-portrait, group photo, wildlife, atau long exposure.
Geotagging: Sinkronisasi GPS data dari smartphone ke foto untuk location information. Berguna untuk travel photography dan organizing foto berdasarkan lokasi.
Koneksi ke Canon Connect Station CS100: Device Canon untuk backup dan viewing foto di TV. Koneksi wireless memudahkan transfer dan presentasi.
Printing Wireless: Connect langsung ke printer wireless compatible seperti Canon SELPHY atau PIXMA untuk print tanpa computer.
Cara Koneksi:
Via NFC (untuk Android):
Canon EOS M10 punya N-Mark di body. Smartphone Android dengan NFC tinggal tap ke mark tersebut dan koneksi otomatis terbentuk tanpa perlu pairing manual. Sangat convenient dan quick.
Via WiFi Manual (untuk iOS atau non-NFC device):
-
Aktifkan WiFi di menu kamera
-
Kamera create WiFi network sendiri (hotspot)
-
Di smartphone, connect ke network M10
-
Buka app Camera Connect
-
Follow instruksi untuk pairing
Setelah pairing pertama kali, koneksi subsequent lebih cepat via tombol dedicated di kamera.
Canon Camera Connect App:
Aplikasi gratis dari Canon tersedia di iOS App Store dan Google Play Store. Interface user-friendly dengan visual clear dan functionality extensive. Rating app umumnya positif meski kadang ada bug minor di OS version tertentu.
Keterbatasan WiFi:
Range: Koneksi WiFi direct range terbatas sekitar 5-10 meter tergantung obstacle. Tidak bisa remote shooting dari jarak jauh seperti 50-100 meter.
Battery Drain: WiFi aktif konsumsi power significant. Battery life bisa drop 30-40% jika WiFi terus aktif. Best practice adalah aktifkan hanya saat perlu transfer.
Speed: Transfer speed WiFi sekitar 2-5 Mbps tergantung kondisi. RAW file 20-25MB butuh beberapa detik per file. JPEG lebih cepat.
No Automatic Upload: Tidak ada auto-sync ke cloud service seperti Google Photos atau iCloud. Harus manual trigger transfer.
Meski ada limitation, WiFi dan NFC di Canon EOS M10 adalah feature sangat berguna terutama untuk social media generation yang ingin instant sharing. Di era 2015, ini adalah feature cutting-edge yang membedakan M10 dari kompetitor.
Desain dan Kualitas Bangun
Canon EOS M10 menampilkan desain yang stylish dan youthful:
Aesthetic:
Desain M10 clean, minimalis, dengan garis-garis rounded yang soft dan friendly. Tidak ada angular aggressiveness atau professional intimidation seperti DSLR hitam besar. Canon clearly targeting younger demographic dan female users dengan design language ini.
Pilihan Warna:
-
Hitam: Classic dan timeless
-
Abu-abu (Silver): Elegant dan modern
-
Putih: Fresh dan feminine, popular di Asia
Availability warna tergantung region. Putih paling rare dan sering menjadi target collector.
Customization:
Canon menawarkan Face Jacket dan Grip sebagai aksesori opsional dalam berbagai warna seperti merah, biru, kuning, coklat. Ini memungkinkan personalisasi kamera sesuai style. Face jacket snap-on di front panel dan bottom plate, mudah diganti-ganti.
Kontrol dan Tombol:
Layout kontrol minimalis untuk tidak intimidate pemula:
Mode Dial: Di top plate untuk switching antara Auto, Program, Aperture Priority, Shutter Priority, Manual, Scene modes, Movie mode. Dial agak kecil tapi functional.
Shutter Button: Terintegrasi dengan power switch melingkar. Half-press untuk fokus, full-press untuk shoot.
Video Record Button: Dedicated button untuk start/stop video recording tanpa perlu ke mode dial.
Exposure Compensation Dial: Quick access untuk adjust brightness ±3 EV. Dial physical lebih convenient dibanding menu diving.
Tidak Ada Hot Shoe: M10 tidak punya hot shoe untuk attach eksternal flash atau accessory. Ini adalah limitation untuk yang butuh lighting additional. Ada built-in pop-up flash tapi tidak powerful.
Material dan Build:
Body terbuat dari engineered plastic yang lightweight namun feels solid di tangan. Tidak ada creaking atau flex berlebihan. Finishing matte dengan texture slightly grippy.
Tidak ada weather sealing untuk dust atau moisture protection. Kamera ini tidak dirancang untuk harsh environment. Avoid penggunaan di rain atau dusty condition tanpa proteksi.
Ergonomi:
Karena prioritas pada compact size, ergonomics compromised sedikit:
Grip Minimal: Front panel cukup flat, hanya slight bump. Untuk tangan besar, handling bisa awkward terutama dengan lensa lebih berat. Face jacket dengan grip tambahan membantu tapi tetap not ideal.
Tombol Kecil: Button dan dial cukup kecil untuk menjaga clean look. Untuk jari besar atau saat pakai sarung tangan, bisa challenging.
Layar Touch: Heavily rely pada touchscreen untuk setting changes. Advantage adalah interface intuitive, disadvantage adalah screen bisa dirty dan lambat dibanding physical dial.
Akses Baterai dan Kartu:
Bottom plate punya pintu untuk baterai dan SD card. Satu pintu untuk both, bukan terpisah. Ketika mount di tripod, harus lepas kamera untuk ganti baterai atau kartu. Ini adalah inconvenience umum di kamera compact.
Port dan Koneksi:
USB 2.0: Mini USB untuk charging baterai in-camera (dengan AC adapter) dan transfer file ke komputer. Bukan USB-C karena era 2015.
Mini HDMI: Type C HDMI untuk output video ke monitor atau TV.
No Mic Jack: Tidak ada 3,5mm mic input, limitation besar untuk video production.
Secara keseluruhan, desain Canon EOS M10 is all about style, portability, dan user-friendliness. Build quality solid untuk price range meski tidak premium metal construction. For casual users dan travelers, design choices make sense. For serious photographers butuh ergonomic dan control extensive, bisa jadi frustrating.
Performa Kamera Canon EOS M10
Mari kita lihat performa actual Canon EOS M10 di berbagai kondisi:
Kualitas Gambar
Kualitas gambar adalah area dimana Canon EOS M10 truly shines:
ISO Rendah (100-400):
Pada ISO 100 hingga 400, kamera menghasilkan gambar excellent dengan:
-
Detail tajam dari center hingga corner dengan lensa quality
-
Color reproduction warm dan pleasing khas Canon – skin tone sangat bagus
-
Dynamic range baik dengan detail preserved di highlight dan shadow
-
Kontras yang balanced, tidak terlalu flat atau terlalu punchy
File RAW 14-bit memberikan latitude editing yang bagus untuk lift shadow atau recover highlight hingga 1-2 stop tanpa artifak significant.
ISO Menengah (800-1600):
Di range ini masih sangat usable:
-
ISO 800: Noise barely visible, detail masih excellent
-
ISO 1600: Slight noise mulai muncul tapi tekstur dan detail masih well-preserved
Untuk print ukuran standard atau web use, ISO 1600 sangat acceptable. Noise karakternya fine-grained dan organic, tidak blotchy atau color-shifted.
Performa ISO Tinggi
ISO 3200-6400:
-
ISO 3200: Noise clearly visible tapi gambar masih usable. Detail mulai slight soft karena noise reduction
-
ISO 6400: Native ISO maximum. Noise prominent dan loss of fine detail. Masih okay untuk emergency atau jika printing small/web use
ISO 12800 (Expanded H):
ISO 12800 adalah expanded range yang harus diaktifkan di menu. Quality noticeably degraded:
-
Noise very visible dengan color noise component
-
Fine detail heavily smudged oleh NR
-
Color accuracy slightly off
-
Dynamic range compressed
ISO ini hanya untuk situation desperate dimana capturing image lebih penting dibanding quality. Better underexpose slightly di ISO 6400 dan lift di post dibanding shoot di ISO 12800.
ISO 25600 (Expanded H2):
Practically unusable kecuali untuk documentation purposes. Image very noisy, detail heavy soft, colors muted. This is emergency-only setting.
Noise Reduction:
Canon DIGIC 6 NR algorithm balance antara noise reduction dan detail preservation reasonably well hingga ISO 1600. Above that, trade-off mulai terasa – pilih antara noisy tapi detail atau smooth tapi soft.
Shooting RAW dan applying NR di post menggunakan software seperti Adobe Lightroom atau DxO PhotoLab memberikan hasil lebih baik dibanding in-camera JPEG NR.
Performa Fokus Otomatis
Kondisi Cahaya Baik:
Dalam daylight atau indoor dengan cahaya cukup, Hybrid CMOS AF II bekerja cukup baik:
-
Acquisition speed 0,2-0,3 detik untuk subjek stationary
-
Accuracy tinggi, rarely misses focus
-
Face detection reliable, mengikuti wajah saat bergerak dalam frame
-
Touch to focus sangat convenient dan responsive
Tracking Subjek Bergerak:
Servo AF mode bisa track subjek bergerak tapi tidak secepat atau sereliable kamera higher-end:
-
Walking person: Trackable dengan success rate decent
-
Running child atau pet: Hit dan miss, sering loss tracking
-
Sports atau bird in flight: Tidak recommended, AF tidak cukup cepat
Untuk family events dengan movement moderate (anak bermain, walking around), AF adequate dengan anticipation. Untuk action sports atau wildlife, keterbatasan jelas.
Low Light:
Di kondisi dim (EV 1-3), AF melambat significant:
-
Hunting lebih sering, butuh beberapa attempt untuk lock
-
AF-assist beam membantu tapi subjek harus cukup dekat (2-3 meter)
-
Bisa miss focus terutama pada subjek low contrast
Better menggunakan focus dan recompose technique atau manual focus dengan focus peaking di condition low light.
Video Autofocus:
AF saat video adalah area weakness Canon EOS M10:
-
Hunting visible, not smooth like more modern mirrorless
-
Slight pulsing saat AF adjust
-
Face tracking works tapi transition not buttery smooth
-
Untuk best results, lock focus sebelum record atau use manual focus
Ini adalah limitation dari AF system era 2015 yang belum dioptimalkan untuk video seperti kamera modern.
Kualitas Video
Resolusi dan Ketajaman:
Video 1080p dari M10 adalah decent tapi not exceptional:
-
Ketajaman okay, slightly soft dibanding kamera dedicated video
-
Detail cukup untuk YouTube 1080p atau Instagram
-
Color reproduction consistent dengan foto, warm dan pleasing
-
Rolling shutter effect noticeable pada pan cepat karena sensor readout tidak super fast
Exposure dan White Balance:
-
Auto exposure umumnya reliable tapi bisa hunting di scene dengan lighting berubah dramatic
-
Manual exposure lebih predictable tapi aperture changes audible
-
Auto white balance decent tapi custom WB recommended untuk consistency
Audio:
Built-in mono mic adalah major weakness:
-
Quality flat dan tinny
-
Wind noise very prominent outdoor
-
No control over levels
-
Stereo separation nonexistent
Untuk serious video work, eksternal recorder atau sync audio dari phone atau dedicated recorder di post adalah necessity.
Bitrate dan Codec:
H.264 encoding pada 30-35 Mbps adequate untuk online distribution tapi not ideal untuk heavy color grading atau post-production. Footage holds up reasonably well untuk basic editing tapi not professional-grade flexibility.
Overall, video dari Canon EOS M10 adalah serviceable untuk vlogging, YouTube, dan social media tapi limitation (no mic input, AF hunting, soft detail) menjadi apparent untuk more serious video work.
Fitur dan Fungsi Canon EOS M10
Canon EOS M10 packed dengan berbagai fitur yang membuatnya user-friendly:
Creative Assist:
Fitur Canon yang memungkinkan adjust parameter seperti background blur, brightness, color tone dengan visual slider instead of technical terms seperti aperture dan ISO. Real-time preview menunjukkan efek perubahan. Ini genius untuk pemula yang tidak paham fotografi teknis tapi ingin kontrol creative.
Scene Intelligent Auto:
Mode full auto yang analyze scene dan apply setting optimal. Kamera detect:
-
Portrait: Optimize untuk skin tone dan background blur
-
Landscape: Maximize depth of field dan vibrance
-
Close-up: Focus pada subjek dekat dengan shallow DOF
-
Night Portrait: Balance subject exposure dengan ambient light
Dalam testing, Scene Intelligent Auto impressive accurate dalam scene recognition dan setting application. Pemula bisa rely sepenuhnya pada mode ini.
Scene Modes:
Berbagai preset untuk situasi specific:
-
Potret
-
Landscape
-
Close-up
-
Sports
-
Night Scene
-
Food (untuk food photography dengan color warm)
-
dll.
Each mode optimize shutter, aperture, ISO, white balance, dan color sesuai subject matter.
Hybrid Auto:
Mode unik yang merekam 2-4 detik video clip sebelum setiap still photo. Di akhir hari, clips otomatis compiled menjadi video diary. Menarik untuk travel atau event documentation.
Self-Portrait Mode:
Dioptimalkan untuk selfie dengan layar flip. Background blur ditingkatkan, skin tone smoothing applied (slight beauty mode), dan brightness optimized untuk flattering result.
Multiple Exposure:
Combine 2-9 foto menjadi single image untuk creative effect. Berguna untuk light painting, ghosting effect, atau composite artistic.
Filters Creative:
Berbagai filter built-in yang bisa applied in-camera:
-
Grainy B&W: Monochrome dengan grain film-like
-
Soft Focus: Dreamy soft effect
-
Fish-eye: Distortion wide-angle effect
-
Toy Camera: Color shift dan vignette retro
-
Miniature: Tilt-shift effect membuat scene terlihat miniature
Filters bisa previewed real-time before shooting, memudahkan creative exploration.
Touch Shutter:
Tap layar untuk fokus dan langsung memotret dalam satu gerakan. Sangat convenient untuk quick snapshot atau candid.
Movie Servo AF:
Continuous autofocus saat merekam video. Bisa toggle on/off. Saat off, fokus locked saat mulai recording. Saat on, kamera continuously adjust focus untuk maintain sharpness pada subjek bergerak.
Interval Timer (via app):
Menggunakan Camera Connect app, bisa setup intervalometer untuk time-lapse photography. Built-in camera tidak punya interval timer tapi via remote app bisa diatur.
Firmware Update:
Canon occasionally release firmware update untuk fix bug atau add minor feature. Check Canon website untuk latest firmware version dan update instruction.
Fitur-fitur ini menjadikan Canon EOS M10 sangat accessible untuk pemula sambil masih offering depth untuk mereka yang ingin explore lebih jauh.
Sistem Lensa Canon EF-M
Canon EOS M10 menggunakan mount EF-M proprietary untuk lensa:
Lensa Native EF-M:
Saat peluncuran M10, lineup lensa EF-M masih terbatas. Hingga 2026, koleksi sudah lebih lengkap tapi tetap tidak sebanyak kompetitor. Lensa EF-M available antara lain:
Lensa Kit:
EF-M 15-45mm f/3.5-6.3 IS STM: Lensa kit standard yang collapsible untuk portability. Range 24-72mm equivalent cukup versatile. Image stabilization (IS) membantu di low light. Quality decent untuk harga, compact dan ringan. Harga baru sekitar Rp 1,5-2 juta, bekas Rp 800 ribu-1,2 juta.
EF-M 18-55mm f/3.5-5.6 IS STM: Lensa kit original, sudah discontinued tapi banyak di pasaran bekas. Range 29-88mm equivalent. Quality similar dengan 15-45mm. Harga bekas sekitar Rp 1-1,5 juta.
Lensa Prime:
EF-M 22mm f/2 STM: Prime compact dengan focal length 35mm equivalent, aperture f/2. Ini adalah lensa pancake super tipis (23,7mm) yang bikin setup sangat portable. Image quality excellent, sharp dan contrasty. Perfect untuk street dan daily carry. Harga baru sekitar Rp 3-4 juta, bekas Rp 2-2,5 juta.
EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM: Macro lens dengan 45mm equivalent dan magnification 1,2x (more than life-size). Built-in LED macro lite di ujung lensa untuk illuminate close-up subject. Unique lens untuk product dan macro photography. Harga baru sekitar Rp 4-5 juta.
EF-M 32mm f/1.4 STM: Portrait prime dengan 51mm equivalent dan bright f/1.4 aperture untuk beautiful bokeh. Image quality superb, build solid. Harga baru sekitar Rp 7-8 juta, positioning sebagai premium prime.
Lensa Zoom Telephoto:
EF-M 55-200mm f/4.5-6.3 IS STM: Telephoto zoom dengan range 88-320mm equivalent. Berguna untuk wildlife, sports, atau distant subject. IS effective untuk handheld shooting. Harga baru sekitar Rp 5-6 juta, bekas Rp 3-4 juta.
EF-M 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM: Superzoom all-in-one dengan range 29-240mm equivalent. Convenience maksimal dengan one-lens solution tapi sacrifice size dan optical quality sedikit. Harga baru sekitar Rp 7-8 juta.
Menggunakan Lensa EF dan EF-S:
Dengan Mount Adapter EF-EOS M (harga baru sekitar Rp 1,5-2 juta, bekas Rp 800 ribu-1 juta), Canon EOS M10 bisa menggunakan semua lensa Canon EF dan EF-S dari era DSLR. Ini membuka akses ke ratusan pilihan lensa termasuk:
-
Lensa L-series professional
-
Lensa prime cepat seperti 50mm f/1.8 (sangat terjangkau)
-
Telephoto panjang untuk wildlife
-
Wide angle extreme untuk landscape
-
Macro lensa berbagai focal length
AF dan image stabilization bekerja through adapter tapi performance slightly degraded. Size dan weight balance juga awkward karena lensa DSLR typically besar dan berat di body M10 yang kecil.
Best use adapter untuk lensa yang sudah dimiliki atau lensa special yang tidak tersedia di EF-M mount.
Keterbatasan Lensa EF-M:
Lineup lensa EF-M adalah limitation terbesar Canon M-system:
-
Tidak ada lensa fast wide aperture native (brightest adalah f/1.4)
-
Limited telephoto option untuk wildlife serious
-
No weather-sealed lens
-
Third-party support minimal (Sigma, Tamron, Tokina mostly tidak bikin EF-M)
Ini adalah concern jika berencana invest long-term dalam system. Canon sendiri sudah shift focus ke RF mount untuk mirrorless mereka, membuat future EF-M uncertain.
Canon EOS M10 Harga
Berapa Harga Kamera Canon EOS M10 Baru?
Berapa harga kamera Canon EOS M10? saat pertama diluncurkan di tahun 2015, harga Canon EOS M10 adalah:
-
Body Only: USD 599 atau sekitar Rp 8-9 juta (kurs 2015)
-
Kit dengan EF-M 15-45mm: USD 699 atau sekitar Rp 9,5-10,5 juta
Di tahun 2026, Canon EOS M10 sudah discontinued dan tidak dijual baru di toko resmi. Stock baru yang tersisa (new old stock) sangat rare dan jika ada, harga bisa bervariasi tapi umumnya tidak worthwhile karena sudah ada model lebih baru dengan harga similar atau lebih murah.
Canon EOS M10 Harga Bekas
Canon EOS M10 harga bekas di tahun 2026 sangat terjangkau karena usia kamera dan availability model lebih baru:
Kondisi Excellent (shutter count rendah <5.000, body mulus tanpa scratch):
-
Body Only: Rp 1,5 juta – Rp 2,2 juta
-
Kit dengan 15-45mm: Rp 2,5 juta – Rp 3,5 juta
Kondisi Good (shutter count sedang 5.000-15.000, normal wear):
-
Body Only: Rp 1,2 juta – Rp 1,8 juta
-
Kit dengan 15-45mm: Rp 2 juta – Rp 3 juta
Kondisi Fair (shutter count tinggi >15.000, visible wear, minor cosmetic damage):
-
Body Only: Rp 900 ribu – Rp 1,5 juta
-
Kit dengan 15-45mm: Rp 1,5 juta – Rp 2,5 juta
Paket Bundle (body + 2 lensa atau lebih + accessories):
-
Rp 3 juta – Rp 5 juta tergantung lensa yang included
Faktor yang Mempengaruhi Harga Bekas:
Warna: Unit putih typically sedikit lebih mahal (premium Rp 100-200 ribu) karena lebih rare dan demand dari collector.
Shutter Count: Low shutter count (<3.000) premium 10-20%. High shutter count (>20.000) discount 15-25%.
Kelengkapan: Complete set dengan box, manual, charger, strap nilai lebih tinggi. Body only tanpa accessories lebih murah.
Kondisi Sensor dan LCD: Sensor bersih tanpa debu atau jamur, LCD tanpa scratch atau dead pixel nilai lebih tinggi.
Garansi Toko: Beberapa toko bekas berikan garansi 1-3 bulan yang menambah nilai dan confidence buyer.
Lokasi: Harga di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung lebih competitive. Di kota kecil bisa lebih mahal karena limited supply.
Tempat Membeli Bekas:
-
Tokopedia: Banyak seller dengan harga competitive dan review system
-
OLX: Bisa nego langsung dengan penjual, COD available
-
Kameraholic, Gudang Kamera, Depok Kamera: Toko bekas reputable dengan grading system
-
Marketplace Facebook: Grup jual beli kamera dengan community active
-
Instagram: Banyak seller dengan showcase portfolio
Tips Membeli Bekas:
-
Check shutter count menggunakan software atau app
-
Inspect sensor untuk debu, jamur, atau scratch
-
Test semua fungsi termasuk AF, flash, LCD, button
-
Check kondisi mount untuk wear
-
Ensure baterai masih hold charge decent
-
Minta test shoot dengan kartu memori sendiri
-
COD dan test langsung jika memungkinkan
-
Check apakah unit pernah service atau impact
Value Proposition di 2026:
Pada harga bekas Rp 1,5-3 juta untuk kit, Canon EOS M10 menawarkan value excellent untuk:
-
Pemula yang ingin belajar fotografi tanpa invest besar
-
Second camera untuk travel atau backup
-
Kids atau teens first camera
-
Gift untuk family member yang hobby fotografi
-
Vlogger budget yang butuh flip screen dan WiFi
Trade-off adalah technology yang aging (10+ tahun), limited lens selection, dan no future investment path karena Canon shift ke RF mount.
Canon EOS M10 Harga dan Spesifikasi – Perbandingan dengan Kompetitor
Canon EOS M10 harga dan spesifikasi dibandingkan dengan kompetitor di segmen entry-level mirrorless (harga bekas comparative di 2026):
| Kamera | Harga Bekas | Sensor | Megapixel | Layar | AF Points | Burst | WiFi | Berat |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Canon EOS M10 | Rp 1,5-3 juta | APS-C | 18MP | 3″ Flip 180° | 49 | 4,6fps | Ya+NFC | 301g |
| Sony A5100 | Rp 2-3,5 juta | APS-C | 24MP | 3″ Flip 180° | 179 | 6fps | Ya+NFC | 283g |
| Fujifilm X-A3 | Rp 2,5-4 juta | APS-C | 24MP | 3″ Flip 180° | 77 | 6fps | Ya | 339g |
| Olympus E-PL8 | Rp 2-3,5 juta | M4/3 | 16MP | 3″ Flip 180° | 81 | 8,5fps | Ya | 374g |
| Panasonic GF9 | Rp 2,5-4 juta | M4/3 | 16MP | 3″ Flip 180° | 49 | 5,8fps | Ya | 269g |
Analisis Perbandingan:
Canon EOS M10 vs Sony A5100:
Sony A5100 unggul di:
-
Resolusi lebih tinggi (24MP vs 18MP)
-
AF points lebih banyak (179 vs 49)
-
Burst rate lebih cepat (6fps vs 4,6fps)
-
Video quality slightly better
Canon M10 unggul di:
-
Harga bekas lebih murah Rp 500 ribu-1 juta
-
Interface lebih user-friendly untuk pemula
-
Touch screen lebih responsive
-
Color reproduction skin tone lebih flattering
Canon EOS M10 vs Fujifilm X-A3:
Fujifilm X-A3 unggul di:
-
Resolusi 24MP
-
Build quality lebih solid
-
Film simulation modes untuk creative look
-
Better JPEG engine
Canon M10 unggul di:
-
Harga lebih murah significant
-
WiFi+NFC (Fuji hanya WiFi)
-
Lebih compact dan ringan
-
AF lebih reliable di low light
Canon EOS M10 vs Olympus E-PL8:
Olympus E-PL8 unggul di:
-
Burst rate sangat cepat (8,5fps)
-
5-axis in-body stabilization (game changer)
-
Build quality retro dan premium
-
Art filters extensive
Canon M10 unggul di:
-
Sensor lebih besar (APS-C vs M4/3) untuk low light dan DOF
-
Harga lebih terjangkau
-
Battery life lebih baik
-
Video AF lebih usable
Kesimpulan Value:
Pada harga Rp 1,5-3 juta kit, Canon EOS M10 menawarkan value proposition strong terutama untuk:
-
Absolute beginner yang prioritaskan user-friendliness
-
Budget-conscious buyer yang masih ingin APS-C sensor
-
Social media enthusiast yang butuh flip screen dan WiFi
-
Casual shooter yang tidak butuh specs cutting-edge
Kompetitor menawarkan specs lebih tinggi tapi dengan harga premium Rp 500 ribu-1,5 juta lebih mahal. Apakah extra megapixel, AF points, atau burst speed worth premium depends on use case individual.
Kelebihan Canon EOS M10
Setelah analisis comprehensive, mari rangkum kelebihan utama Canon EOS M10:
1. Harga Bekas Sangat Terjangkau:
Dengan harga kit Rp 2-3 juta di tahun 2026, ini adalah salah satu cara termurah untuk mendapat kamera lensa ganti dengan sensor APS-C. Value for money excellent untuk pemula atau budget terbatas.
2. Desain Compact dan Lightweight:
Bobot 301 gram dan dimensi kecil membuat M10 ultra-portable. Mudah dibawa kemana-mana tanpa beban. Cocok untuk travel, daily carry, atau anyone yang tidak suka heavy gear.
3. Layar Flip 180 Derajat:
Feature ini sangat valuable untuk selfie, vlog, dan low-angle shooting. Di era social media, flip screen adalah must-have dan M10 deliver dengan implementation yang smooth.
4. Touch Screen Responsive:
Interface touch yang intuitive membuat operation cepat dan easy. Touch to focus dan shoot sangat convenient untuk candid dan street photography.
5. Kualitas Gambar Excellent:
Sensor APS-C 18MP dengan DIGIC 6 menghasilkan gambar dengan detail bagus, color pleasing, dan dynamic range solid. Performa ISO hingga 1600 sangat usable. Quality comparable dengan DSLR entry-level.
6. WiFi dan NFC Built-in:
Connectivity wireless dengan NFC tap untuk instant pairing sangat convenient. Transfer foto ke smartphone untuk social media sharing adalah seamless. Remote shooting via app berguna untuk creative photography.
7. User-Friendly untuk Pemula:
Creative Assist, Scene Intelligent Auto, dan berbagai mode otomatis membuat M10 accessible untuk complete beginner tanpa fotografi knowledge. Learning curve gentle.
8. Pilihan Warna dan Customization:
Availability dalam warna hitam, abu-abu, dan putih plus opsional face jacket memberikan personalization yang fun. Appeal ke younger demographic yang care about aesthetic.
9. Battery Life Decent:
Battery LP-E12 memberikan sekitar 250-300 shots per charge dalam usage normal. Cukup untuk seharian casual shooting. Battery affordable untuk beli spare.
10. Ecosystem Canon:
Bisa menggunakan lensa EF/EF-S via adapter membuka akses ke huge lens library. Knowledge dan skill transferable ke Canon camera lain jika upgrade di future.
11. Video Capability dengan Manual Control:
Meski tidak cutting-edge, video 1080p dengan manual exposure control cukup untuk vlogging, YouTube, dan social media. Flip screen adalah advantage besar untuk vlogger.
12. Compact dengan APS-C Sensor:
Rare combination – mayoritas compact mirrorless menggunakan sensor smaller (1 inch atau M4/3). M10 memberikan image quality benefit dari APS-C dalam body sangat compact.
Kekurangan Canon EOS M10
Tidak ada kamera yang perfect. Berikut kekurangan yang perlu dipertimbangkan:
1. Tidak Ada Jendela Bidik (Viewfinder):
Hanya mengandalkan LCD untuk framing. Di outdoor bright, visibility bisa challenging. Untuk steady shooting, tidak ada option untuk brace camera ke mata.
2. Autofokus Lambat untuk Subjek Bergerak:
Sistem AF tidak cukup cepat atau accurate untuk sports, wildlife, atau action photography. Tracking subjek cepat sering kehilangan jejak. Limitation besar jika sering foto subjek bergerak.
3. Tidak Ada Port Mikrofon Eksternal:
Untuk videographer serious, ketiadaan input mikrofon 3,5mm adalah deal-breaker. Audio internal mono quality rendah dan pickup wind noise excessive. Harus sync audio terpisah di editing.
4. Burst Rate Terbatas 4,6fps:
Kecepatan bidikan beruntun modest. Kompetitor di price range sama menawarkan 6-8fps. Untuk capture action atau moment fleeting, bisa miss shots critical.
5. Tidak Ada Weather Sealing:
Body plastic tanpa protection debu atau kelembaban. Tidak bisa digunakan di kondisi ekstrem atau cuaca buruk tanpa proteksi tambahan. Limitation untuk adventure atau outdoor photography.
6. Grip Minimal dan Ergonomi Basic:
Design prioritas compact over ergonomic. Handling kurang comfortable terutama dengan lensa berat. Untuk shooting extended, bisa strain tangan. Button kecil bisa awkward untuk jari besar.
7. Battery Life Modest:
250-300 shots per charge cukup untuk casual use tapi tidak banyak untuk shooting intensif sepanjang hari. Perlu spare battery jika trip panjang atau event coverage.
8. Lineup Lensa EF-M Terbatas:
Pilihan lensa native tidak sebanyak sistem kompetitor. Tidak ada lensa fast aperture f/1.2 atau f/1.4 affordable. Limited telephoto untuk wildlife. Third-party support minimal.
9. Video AF Hunting:
Fokus otomatis saat video tidak smooth, sering hunting dan pulsing. Untuk video professional-looking, perlu manual focus yang requires skill dan practice.
10. Shutter Speed Maksimal 1/4000:
Tidak secepat flagship camera yang 1/8000. Limitation saat gunakan aperture sangat lebar di kondisi bright atau ingin freeze motion extreme.
11. Tidak Ada Hot Shoe:
Tidak bisa attach external flash atau accessory seperti microphone atau LED light via hot shoe. Built-in flash weak. Limitation untuk photography dengan lighting tambahan.
12. Single SD Card Slot:
Hanya satu slot kartu memori tanpa backup redundancy. Jika kartu corrupt atau penuh saat event penting, bisa disaster. Professional biasanya butuh dual slot untuk peace of mind.
13. Teknologi Aging:
Kamera berusia 10+ tahun dengan teknologi yang outdated dibanding modern mirrorless. Tidak ada fitur modern seperti eye AF, unlimited video recording, USB charging, atau computational photography.
14. Masa Depan Sistem Uncertain:
Canon sudah shift focus ke RF mount untuk mirrorless. EF-M mount future unclear dengan limited new lens development. Investment jangka panjang dalam sistem berisiko.
Kekurangan-kekurangan ini adalah context penting untuk set expectation realistic. Canon EOS M10 adalah camera excellent untuk use case tertentu tapi bukan jack-of-all-trades.
Untuk Siapa Canon EOS M10 Cocok?
Canon EOS M10 adalah camera yang cocok untuk profil pengguna spesifik:
1. Pemula Absolute yang Baru Mulai Fotografi:
Interface ramah pemula, mode otomatis intelligent, dan Creative Assist membuat M10 perfect first camera. Bisa mulai dengan full auto dan gradually belajar manual control. Harga bekas terjangkau mengurangi risk jika ternyata tidak continue hobby.
2. Upgrade dari Smartphone:
Untuk yang sudah maksimal kemampuan kamera ponsel dan ingin image quality lebih tinggi, M10 adalah stepping stone logis. Sensor APS-C memberikan leap quality significant terutama untuk bokeh, low light, dan cetakan besar.
3. Vlogger Pemula dan Content Creator Budget:
Layar flip 180 derajat essential untuk vlog, WiFi untuk transfer cepat, dan ukuran compact untuk handling mudah saat selfie. Meski video quality bukan terbaik, cukup untuk YouTube dan Instagram di budget ketat.
4. Traveler dan Backpacker:
Bobot 301 gram dan ukuran kecil tidak membebani backpack. Cukup powerful untuk landscape, street, dan potret travel tanpa bulk DSLR. Flip screen bagus untuk group selfie dan tourist photos.
5. Generasi Muda dan Remaja:
Design stylish dengan pilihan warna fun appeals to younger demographic. WiFi dan NFC untuk instant social media sharing adalah must-have. User-friendliness membuat tidak intimidating untuk first-time users.
6. Parents yang Dokumentasi Keluarga:
Capture momen anak dan keluarga dengan quality lebih baik dari smartphone. Mode otomatis handle exposure dan focus sehingga bisa focus pada moment daripada technical settings.
7. Second Camera atau Backup:
Untuk fotografer yang sudah punya main camera, M10 bisa jadi lightweight backup atau casual shooter untuk daily carry tanpa khawatir risiko damage main gear.
8. Street Photography Casual:
Size compact dan look non-threatening membuat M10 discreet untuk street. Touch AF cepat untuk candid. Silent mode dengan electronic shutter tidak disturb subjects.
9. Hobby Photographer yang Casual:
Untuk yang foto untuk fun dan personal enjoyment tanpa tekanan professional, M10 memberikan all yang needed tanpa complexity excessive atau cost prohibitive.
10. Gift untuk Orang Tersayang:
Combination dari user-friendly, stylish design, dan harga reasonable membuat M10 gift excellent untuk family member atau teman yang interest fotografi.
Mungkin Tidak Cocok Untuk:
-
Fotografer sports atau wildlife yang butuh AF cepat dan burst rate tinggi
-
Videographer serious yang butuh 4K, mic input, dan AF smooth
-
Professional yang butuh reliability dan image quality uncompromising untuk paid work
-
Fotografer yang prioritize ergonomi dan handling untuk shooting extended
-
Adventure photographer yang butuh weather sealing dan rugged build
-
Yang ingin invest long-term dalam lens ecosystem extensive
Tips Memaksimalkan Canon EOS M10
Untuk mendapat hasil maksimal dari M10:
1. Pelajari Segitiga Exposure Gradually:
Mulai dengan mode auto, lalu explore Aperture Priority untuk control depth of field, Shutter Priority untuk motion control, dan eventually Manual untuk full creative control. Practice di berbagai kondisi untuk develop intuisi.
2. Shoot RAW untuk Fleksibilitas Editing:
RAW file memberikan latitude lebih besar untuk recovery highlight, lift shadow, dan adjust white balance di post-processing. Invest waktu belajar Lightroom atau software editing gratis seperti Darktable atau RawTherapee.
3. Master Touch AF untuk Shooting Cepat:
Gunakan fitur touch AF extensively. Tap untuk focus dan trigger shutter dalam one motion sangat quick untuk candid dan street. Practice hingga jadi second nature.
4. Manfaatkan WiFi untuk Backup Instant:
Transfer foto penting ke smartphone segera after shooting sebagai backup. Jika kartu corrupt atau camera hilang, setidaknya shots critical sudah saved.
5. Gunakan Manual Focus dengan Focus Peaking:
Aktifkan focus peaking di menu untuk manual focus assist. Edge detection dengan highlight color membuat manual focus accurate terutama untuk macro atau video.
6. Invest di Lensa Prime untuk Quality:
Lensa kit adequate tapi lensa prime seperti EF-M 22mm f/2 memberikan image quality step up significant dengan aperture lebih lebar untuk low light dan bokeh. Harga terjangkau dan size compact perfect match untuk M10.
7. Bawa Spare Battery dan Kartu:
Battery life modest jadi spare essential untuk trip atau shooting full day. Kartu cadangan mencegah disaster jika kartu utama penuh atau bermasalah.
8. Clean Sensor Berkala:
Sensor mirrorless exposed saat ganti lensa sehingga prone ke debu. Clean sensor manual dengan blower rocket atau bawa ke service center untuk wet cleaning jika ada spot persistent.
9. Gunakan Strap atau Wrist Strap:
Body kecil dan light bisa slip dari tangan. Strap menghindari drop accidental. Wrist strap compact alternative untuk neck strap yang bulky.
10. Explore Creative Filters dan Modes:
Experiment dengan berbagai filter dan mode creative built-in untuk find style unik. Practice membuat familiar dengan capability camera dan inspire creativity.
11. Join Komunitas Canon EOS M:
Bergabung dengan forum atau group Facebook pengguna Canon M untuk tips, trick, troubleshooting, dan inspiration. Community support valuable untuk learning dan motivation.
12. Practice Composition dan Lighting:
Technical skill penting tapi composition dan lighting adalah what makes photo interesting. Study rule of thirds, leading lines, lighting direction, golden hour untuk elevate photography dari snapshot ke art.
13. Backup dan Organize Foto Regular:
Setup sistem backup automatic ke external drive dan cloud. Organize foto dengan folder struktur atau software seperti Lightroom untuk easy retrieval. Data loss adalah nightmare jadi protection adalah must.
14. Calibrate Expectation pada Limitation:
Understand limitation kamera dalam sports, video, dan extreme condition. Work within strength kamera untuk avoid frustration. Jika butuh capability beyond, consider upgrade instead of forcing M10.
15. Enjoy Process dan Jangan Overthink Gear:
Gear adalah tool tapi vision dan execution adalah what matters. M10 capable untuk stunning photography jika gunakan properly. Focus pada improve skill daripada chase latest technology.
Aksesori yang Direkomendasikan
Untuk melengkapi Canon EOS M10:
Spare Battery LP-E12 (Rp 150-250 ribu third-party, Rp 400-500 ribu original):
Battery life modest membuat spare necessity. Brand seperti Wasabi Power atau Ravpower offer good value dengan performance decent. Original Canon paling reliable tapi mahal.
SD Card Berkecepatan Tinggi (Rp 150-500 ribu):
Rekomendasi UHS-I Class 10 dengan speed 80-100 MB/s untuk performance optimal dan video smooth. SanDisk Extreme atau Samsung EVO Plus adalah pilihan reliable. Kapasitas 32-64GB cukup untuk shooting typical.
Tas Kamera Compact (Rp 100-400 ribu):
Tas kecil atau pouch yang pas untuk M10 plus 1-2 lensa. Peak Design Field Pouch, Lowepro Dashpoint, atau tas lokal brand seperti Firefly offer good protection dengan size compact.
Lensa EF-M 22mm f/2 STM (Rp 2-2,5 juta bekas, Rp 3-4 juta baru):
Upgrade lensa paling worthwhile dari kit lens. Focal length 35mm equivalent versatile, aperture f/2 bagus untuk low light dan bokeh, size pancake super compact. Image quality excellent.
Screen Protector (Rp 30-80 ribu):
Protector tempered glass atau film untuk protect LCD dari scratch. Layar adalah interface utama M10 jadi protection penting.
Rocket Blower (Rp 50-100 ribu):
Tool essential untuk clean sensor dan lensa dari dust. Giottos Rocket Blower adalah standard industry. Gunakan regular untuk maintain cleanliness.
Microfiber Cloth (Rp 20-50 ribu):
Untuk clean LCD dan lensa. Pilih yang soft dan lint-free. Pack beberapa untuk berbagai purpose.
Mini Tripod atau Gorillapod (Rp 100-400 ribu):
Untuk long exposure, self-portrait, atau video stable. Joby Gorillapod 1K bisa wrap di pole atau surface uneven. Mini tripod like Manfrotto PIXI compact dan stable.
Wrist Strap atau Hand Strap (Rp 50-150 ribu):
Alternative untuk neck strap yang less bulky. Peak Design Cuff atau generic brand offer secure attachment dengan quick-release.
EF to EF-M Adapter (Rp 800 ribu-1 juta bekas, Rp 1,5-2 juta baru):
Jika ada atau plan acquire lensa Canon EF/EF-S. Membuka akses ke huge lens library. Berguna untuk lensa special yang tidak available di EF-M.
External Flash atau LED Light (Rp 200-800 ribu):
Meski tidak ada hot shoe, bisa gunakan off-camera flash manual trigger dengan receiver atau LED portable untuk video lighting. Godox atau Yongnuo offer budget-friendly options.
Lens Cleaning Kit (Rp 100-200 ribu):
Kit lengkap dengan blower, brush, solution, cloth, dan swab untuk clean lensa dan sensor. Maintenance regular extend equipment life.
Smartphone Gimbal atau Grip (Rp 300-1.500 ribu):
Untuk video shooting smooth, gimbal smartphone atau grip stabilizer membantu. Zhiyun Smooth atau DJI Osmo Mobile bisa adapt untuk M10 dengan mounting solution creative.
Polarizing Filter (Rp 150-400 ribu):
Untuk lensa yang dipunya, polarizer reduce glare, increase contrast, dan deepen blue sky. Berguna untuk landscape dan outdoor photography.
ND Filter (Rp 200-500 ribu):
Variable ND untuk video dan long exposure di bright condition. Memungkinkan gunakan shutter speed slow atau aperture lebar tanpa overexpose.
Battery Charger External (Rp 100-200 ribu third-party):
Charger standalone dengan display dan multiple slot memudahkan charge beberapa battery. Bisa charge via USB power bank saat travel.
Perawatan Canon EOS M10
Untuk menjaga M10 dalam kondisi optimal:
Pembersihan Rutin:
Exterior Body: Wipe dengan microfiber cloth untuk remove dust dan sidik jari. Gunakan slightly damp cloth untuk noda stubborn. Avoid harsh chemicals yang bisa damage plastic finish.
LCD Screen: Clean dengan microfiber dan LCD cleaner spray. Spray ke cloth, never directly ke screen. Wipe dengan gerakan gentle circular.
Lensa: Gunakan blower untuk remove dust particles first. Lalu brush soft atau microfiber untuk smudge. Untuk kotoran stubborn, gunakan lens cleaning solution dengan tissue lens atau cloth.
Sensor: Blow dengan rocket blower untuk remove loose dust. Untuk spot persistent, bawa ke service center untuk wet cleaning professional. DIY sensor cleaning risky jika tidak experienced.
Port dan Slot: Check USB, HDMI, dan SD card slot untuk debris. Gunakan blower atau cotton swab untuk clean. Dust bisa cause connection issue.
Thermal Maintenance:
Tidak perlu maintenance thermal extensive karena M10 tidak generate heat excessive. Pastikan ventilation tidak blocked saat shooting dan avoid prolonged video recording di hot environment untuk prevent overheat.
Storage:
Dry Cabinet atau Box: Store di dry cabinet dengan humidity 40-50% untuk prevent jamur, especially di iklim tropis Indonesia. Silica gel di camera bag juga help.
Battery Care: Remove battery jika tidak gunakan untuk periode extended. Store battery di 40-60% charge di cool place. Cycle battery (discharge lalu full charge) setiap 3-6 bulan untuk maintain health.
Regular Use: Gunakan kamera regular, setidaknya setiap beberapa minggu. Mechanical dan electronic component benefit dari operation regular.
Software Maintenance:
Firmware Update: Check Canon website untuk firmware update. Update bisa fix bug dan improve performance. Follow instruction carefully untuk avoid bricking camera.
Format Card Regularly: Format SD card in-camera setiap beberapa shooting untuk maintain file system health. Backup foto dulu before format.
Professional Service:
Interval: Bawa ke service center Canon atau technician trusted setiap 1-2 tahun untuk general checkup, sensor cleaning professional, dan lubrication mechanical part.
Cost: Service cleaning basic sekitar Rp 200-400 ribu. Repair jika ada issue additional cost.
When to Service:
-
Spot persistent di foto (sensor dust)
-
AF consistently miss-focused
-
Shutter sound abnormal atau stuck
-
Button atau dial tidak responsive
-
Error message frequent
Protection Tips:
Avoid Drop: Gunakan strap always. Camera kecil mudah slip dari tangan.
Weather Protection: Gunakan rain cover atau plastic bag saat drizzle atau dusty environment. M10 tidak weather-sealed.
Temperature Extreme: Avoid leaving di car panas atau freezing cold. Operating temp ideal 0-40°C.
Impact Protection: Gunakan padded bag atau case saat transport. Shock bisa damage internal component meski external terlihat okay.
Dengan maintenance proper, Canon EOS M10 bisa bertahan banyak tahun dan serve dengan baik. Investment waktu untuk care adalah worthwhile untuk longevity equipment.
Rekomendasi
Canon EOS M10 adalah kamera mirrorless entry-level yang menawarkan value proposition menarik di tahun 2026 sebagai opsi bekas yang sangat terjangkau.
Ringkasan Poin Utama:
Peluncuran: Oktober 2015, sudah berusia 10+ tahun tapi masih relevant untuk use case tertentu.
Kategori: Kamera mirrorless dengan lensa ganti, sensor APS-C 18 megapiksel, fokus untuk pemula dan lifestyle photography.
Harga Bekas: Rp 1,5-3 juta untuk kit dengan lensa 15-45mm – sangat terjangkau untuk sensor APS-C.
Kekuatan: Compact dan ringan (301g), layar flip 180 derajat, WiFi+NFC, user-friendly, kualitas gambar baik, harga murah.
Kelemahan: Tidak ada viewfinder, AF lambat untuk action, tidak ada mic input, lineup lensa terbatas, teknologi aging.
Cocok Untuk: Pemula, vlogger budget, traveler, upgrade dari smartphone, hobby photographer casual, generasi muda yang prioritas portability dan sharing.
Tidak Cocok Untuk: Fotografer sports/wildlife, videographer serious, professional berbayar, yang butuh weather sealing atau ergonomi advanced.
Rekomendasi Berdasarkan Scenario:
Highly Recommended If:
-
Budget maksimal Rp 3-4 juta untuk kit lengkap
-
Prioritas portability dan tidak mau bawa heavy gear
-
Pemula yang belajar fotografi dari scratch
-
Butuh flip screen untuk selfie dan vlog
-
Casual shooting untuk social media dan keluarga
-
Second camera untuk lightweight daily carry
Consider Alternative If:
-
Budget lebih tinggi Rp 5-7 juta untuk camera dengan specs better (Sony A6000, Fujifilm X-A5, Canon M50)
-
Butuh AF fast untuk sports atau wildlife (consider DSLR atau mirrorless higher-end)
-
Video adalah priority dengan requirement 4K dan mic input (consider Sony A6400, Panasonic G85)
-
Want invest long-term dalam lens system extensive (consider Sony E-mount atau Fujifilm X)
-
Prefer optical viewfinder (consider DSLR seperti Canon 1300D atau Nikon D3500)
Konfigurasi Recommended:
Budget Minimal (Rp 2-2,5 juta):
-
Canon EOS M10 body bekas kondisi good
-
EF-M 15-45mm kit lens
-
Spare battery generic
-
SD card 32GB
-
Basic cleaning kit
Budget Optimal (Rp 4-5 juta):
-
Canon EOS M10 body bekas kondisi excellent
-
EF-M 15-45mm kit lens
-
EF-M 22mm f/2 prime bekas
-
2x spare battery
-
SD card 64GB fast
-
Camera bag
-
Screen protector dan cleaning kit complete
Kata Akhir:
Canon EOS M10 bukan kamera paling canggih atau paling cepat, tapi adalah tool yang capable di tangan yang tepat. Untuk pemula yang ingin belajar fotografi serius tanpa invest besar, atau untuk casual photographer yang prioritas convenience dan sharing, M10 menawarkan value excellent.
Limitation ada – tidak ada viewfinder, AF tidak super cepat, video bukan cutting-edge. Tapi untuk use case intended (daily photography, travel, vlog casual, family documentation), kamera ini more than adequate.
Di harga bekas Rp 2-3 juta kit, ini adalah salah satu entry point paling affordable ke fotografi mirrorless dengan sensor APS-C. Risk rendah jika ternyata tidak lanjut hobby, dan quality output cukup tinggi untuk proud share hasil foto.
Recommendation final: Jika fit profile dan use case di atas, Canon EOS M10 adalah purchase smart yang tidak akan regret. Jika butuh feature lebih advanced atau invest jangka panjang, worth save lebih untuk camera modern dengan future-proof system.
Pertanyaan Umum Canon EOS M10
Canon EOS M10 keluar tahun berapa?
Canon EOS M10 diumumkan pada 13 Oktober 2015 dan mulai tersedia di pasaran November 2015. Jadi di tahun 2026, kamera ini sudah berusia lebih dari 10 tahun. Meski usia cukup lama, M10 masih populer di pasaran bekas karena harga terjangkau dan kualitas yang masih baik untuk pemula atau casual photography.
Berapa harga kamera Canon EOS M10?
Harga Canon EOS M10 bekas di tahun 2026 berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2,2 juta untuk body only tergantung kondisi. Untuk kit dengan lensa EF-M 15-45mm, harga sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta. Kondisi excellent dengan shutter count rendah harga lebih tinggi, sementara kondisi fair dengan wear normal harga lebih murah. Unit warna putih biasanya sedikit lebih mahal karena lebih langka.
Canon M10 termasuk kamera apa?
Canon EOS M10 termasuk kamera mirrorless dengan lensa yang dapat diganti. Menggunakan sensor APS-C berukuran 22,3 x 14,9 mm dengan resolusi 18 megapiksel. Kategorinya adalah kamera sistem kompak (compact system camera) entry-level yang ditujukan untuk pemula, vlogger, dan casual photographer. Tidak memiliki cermin seperti DSLR sehingga ukuran lebih kecil dan ringan.
Canon EOS M10 apakah sudah wifi?
Ya, Canon EOS M10 sudah dilengkapi WiFi built-in dan NFC (Near Field Communication). WiFi memungkinkan transfer foto ke smartphone, remote shooting via aplikasi Canon Camera Connect, dan koneksi ke printer wireless. NFC pada smartphone Android memudahkan pairing dengan tap ke N-Mark di body kamera tanpa setup manual. Fitur ini sangat berguna untuk sharing instant ke media sosial.
Apakah Canon EOS M10 bagus untuk pemula?
Sangat bagus. M10 dirancang khusus untuk pemula dengan interface user-friendly, mode otomatis intelligent, Creative Assist untuk adjust parameter tanpa istilah teknis, dan layar touch yang intuitive. Pemula bisa mulai dengan mode auto complete dan gradually belajar manual control. Harga bekas terjangkau mengurangi risk investment jika ternyata tidak continue hobby fotografi.
Berapa megapixel Canon EOS M10?
Canon EOS M10 memiliki sensor 18 megapiksel efektif. Resolusi maksimal foto adalah 5184 x 3456 pixel. Meski angka megapixel tidak setinggi kamera modern yang 24-32 MP, resolusi 18 MP sangat cukup untuk print poster besar, crop signifikan, dan semua kebutuhan casual hingga semi-professional. File size lebih kecil juga lebih mudah untuk editing dan storage.
Apakah Canon EOS M10 bisa video 4K?
Tidak, Canon EOS M10 hanya bisa merekam video maksimal Full HD 1080p pada 30fps. Tidak ada kemampuan 4K. Untuk era peluncuran 2015, 1080p adalah standard tapi di 2026 sudah ketinggalan dibanding kamera modern. Video 1080p masih adequate untuk YouTube, Instagram, dan vlog casual tapi tidak untuk production video professional atau future-proofing.
Apakah Canon EOS M10 punya viewfinder?
Tidak, Canon EOS M10 tidak memiliki viewfinder elektronik (EVF) built-in dan tidak ada opsi untuk attach EVF eksternal. Semua framing dilakukan via layar LCD 3 inci. Ini adalah trade-off untuk menjaga ukuran compact dan harga affordable. Di outdoor bright, visibility LCD bisa challenging dan untuk steady handheld tidak ada option brace ke mata.
Berapa lama battery life Canon EOS M10?
Battery LP-E12 memberikan sekitar 250-300 shots per charge dalam kondisi normal dengan WiFi off. Jika aktifkan WiFi terus-menerus, battery life bisa drop 30-40%. Untuk video recording, sekitar 70-90 menit continuous. Battery life modest sehingga disarankan punya minimal 1 spare battery untuk shooting seharian atau travel. Charge time sekitar 2-3 jam dengan charger original.
Lensa apa yang cocok untuk Canon EOS M10?
Lensa yang recommended: EF-M 22mm f/2 STM (prime compact excellent untuk street dan daily), EF-M 15-45mm IS STM (kit zoom versatile), EF-M 55-200mm IS STM (telephoto untuk distant subject), atau gunakan adapter EF-EOS M untuk akses lensa Canon EF/EF-S. Untuk pemula, kit lens 15-45mm cukup versatile. Upgrade ke 22mm f/2 memberikan image quality step up significant dengan bokeh lebih creamy.
Apakah Canon EOS M10 weather sealed?
Tidak, Canon EOS M10 tidak memiliki weather sealing untuk proteksi debu atau moisture. Body plastic tanpa gasket seal di port dan button. Kamera ini tidak dirancang untuk kondisi extreme atau cuaca buruk. Hindari penggunaan saat hujan atau environment dusty tanpa proteksi tambahan seperti rain cover atau plastic bag. Jika basah, segera keringkan untuk avoid damage.
Bagaimana kualitas gambar Canon EOS M10?
Kualitas gambar sangat baik untuk entry-level camera. Sensor APS-C 18MP menghasilkan foto dengan detail tajam, color reproduction pleasing khas Canon (warm dan flattering untuk skin tone), dan dynamic range decent. Performa ISO hingga 1600 sangat usable dengan noise minimal. Di ISO 3200-6400 noise mulai visible tapi masih acceptable. Comparable dengan DSLR entry-level Canon seperti 1300D atau 700D.
Apakah Canon EOS M10 sudah discontinue?
Ya, Canon sudah menghentikan produksi EOS M10 beberapa tahun lalu dan digantikan oleh M100 (2017) dan kemudian M200 (2019). Di tahun 2026, M10 hanya tersedia di pasaran bekas. Canon juga sudah shift focus ke RF mount untuk mirrorless mereka, membuat future EF-M system uncertain. Namun di pasaran bekas, M10 masih banyak tersedia dengan harga sangat terjangkau.
Berapa shutter count optimal untuk M10 bekas?
Shutter Canon EOS M10 di-rate untuk sekitar 100.000 actuations. Untuk pembelian bekas, shutter count di bawah 10.000 adalah excellent (barely used), 10.000-30.000 adalah good (moderate use), 30.000-60.000 adalah acceptable (heavy use tapi masih banyak life remaining), di atas 60.000 consider hati-hati karena mendekati rated life. Check shutter count menggunakan software gratis seperti EOSInfo atau upload sample RAW ke website checker.
Apakah Canon EOS M10 support RAW?
Ya, Canon EOS M10 bisa shoot dalam format RAW (Canon CR2) 14-bit yang memberikan flexibility editing maksimal. Bisa juga shoot RAW+JPEG simultaneously. RAW file sekitar 20-25 MB per foto, sementara JPEG Fine sekitar 5-7 MB. Shooting RAW recommended untuk serious photography karena latitude editing jauh lebih besar terutama untuk recovery highlight dan lift shadow.
Dimana membeli Canon EOS M10 bekas yang terpercaya?
Tempat terpercaya untuk beli M10 bekas: toko kamera bekas seperti Kameraholic, Gudang Kamera, atau Depok Kamera yang berikan grading jelas dan garansi toko. Marketplace online seperti Tokopedia dari seller dengan rating tinggi dan review banyak. OLX untuk nego langsung dengan COD testing. Grup Facebook jual beli kamera dengan community active. Instagram seller dengan portfolio jelas. Prioritaskan COD untuk test langsung sebelum bayar jika memungkinkan.
Apakah Canon EOS M10 worth it di tahun 2026?
Worth it jika fit profile: pemula dengan budget ketat (Rp 2-3 juta), casual photographer yang prioritas portability, vlogger budget yang butuh flip screen, atau second camera lightweight. Tidak worth it jika: butuh AF fast untuk sports, videographer serious yang butuh 4K dan mic input, atau ingin invest long-term dalam lens system karena future EF-M uncertain. Pada price point nya, M10 offer value excellent tapi dengan limitation yang harus accepted.
Bagaimana cara transfer foto dari M10 ke smartphone?
Untuk Android dengan NFC: tap smartphone ke N-Mark di kamera untuk auto-pairing. Untuk iOS atau non-NFC Android: aktifkan WiFi di menu kamera, connect smartphone ke WiFi network M10 (hotspot), buka app Camera Connect gratis dari Canon, pilih foto untuk transfer. Setelah pairing pertama, koneksi subsequent lebih cepat. Transfer speed sekitar 2-5 Mbps. App Camera Connect juga bisa untuk remote shooting dengan live view di smartphone screen.

Editor kepala di web SabineBlog.com yang bertugas mereview semua artikel sebelum publish di Web SabineBlog. Penulis Ahli di bidang Komputer, Teknologi, Smartphone dan Gadget Lainnya selama Puluhan Tahun.


